TERNATE — Kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai adat dan kearifan lokal di Kelurahan Tubo dinilai mulai terkikis seiring perkembangan zaman. Untuk membalikkan tren itu, anak muda setempat berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Universitas Khairun Ternate menggelar diskusi yang diberi tajuk "Kampung Tua Tubo: Sejarah dan Pelestarian Kampung Adat di Tengah Akulturasi Budaya".
Ketua Panitia Sarasehan Budaya, Masdar Soleman, mengatakan kegiatan ini merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif. “Tubo adalah salah satu kelurahan tertua di Ternate. Namun kesadaran masyarakat terhadap adat dan budaya lokal masih perlu diperkuat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Muhammad Tang, menegaskan bahwa status kampung tua tidak bisa hanya didasarkan pada narasi lisan. Menurutnya, perlu ada bukti sejarah dan tinggalan arkeologis yang teridentifikasi untuk memperkuat klaim tersebut.
“Tinggalan budaya seperti makam kuno, situs permukiman lama, maupun jejak kehidupan masyarakat masa lalu perlu diidentifikasi dan didokumentasikan sebagai bagian dari upaya pelestarian,” kata Muhammad Tang dalam sesi diskusi.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, yang membuka acara tersebut mengingatkan agar hasil sarasehan tidak berhenti pada forum. Ia mendorong adanya pemetaan kawasan, penyusunan kajian, hingga perencanaan pengembangan Tubo sebagai kampung tua yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.
“Kita jangan berhenti pada diskusi. Harus ada langkah konkret agar Tubo bisa berkembang menjadi kampung tua yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tegas Rizal di hadapan peserta.
Rizal menambahkan, derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga identitas budaya lokal. Kolaborasi antara komunitas, akademisi, media, dan masyarakat dinilai mutlak diperlukan untuk menghadapi tekanan tersebut.
Acara yang dipandu oleh Titi Riani Muhammad ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain akademisi Sahrony A. Hirto, Tulilamo Kesultanan Ternate Irwan Abdul Gani, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara.
Sarasehan ini merupakan salah satu dari 27 program penerima manfaat Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (BP Kebudayaan) Maluku Utara Tahun 2026. Program tersebut diberikan kepada komunitas maupun perorangan untuk mengembangkan kegiatan kebudayaan di daerah.
Masdar Soleman berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut dan menjadi gerakan bersama. “Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong masyarakat memahami identitas dan jati dirinya,” pungkasnya.