Bahasa Ternate Kini Dilombakan di Kedaton Kesultanan, Pelajar hingga Mahasiswa Ikut Berlomba

Penulis: Saiful  •  Minggu, 19 Juli 2026 | 16:12:16 WIB
Wakil Wali Kota Ternate membuka langsung kompetisi Bahasa Ternate di area Kedaton Kesultanan Ternate.

TERNATE — Wakil Wali Kota Ternate membuka langsung kompetisi yang berlangsung di area bersejarah Kesultanan Ternate itu. Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate. Kehadiran para pejabat ini menandakan dukungan lintas sektor terhadap upaya revitalisasi bahasa lokal.

Mengapa Pelibatan Perangkat Kesultanan Penting?

Panitia tidak sembarangan dalam memilih juri. Untuk menjaga kualitas penilaian, mereka melibatkan perangkat Kesultanan Ternate yang memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa dan budaya Ternate. “Modernisasi memang tidak bisa dihindari, tetapi bahasa daerah adalah simbol identitas yang harus terus dirawat agar karakter budaya kita tetap dikenal,” ujar Ketua Panitia sekaligus Ketua Yayasan Noble Future Education, Mohammad Taufik yang akrab disapa Ipox.

Ipox menambahkan, pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Menurutnya, kegiatan nonformal dan informal seperti kompetisi ini justru menjadi penguat yang efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa lokal sejak usia dini.

Tiga Kategori Lomba, dari Tebak Gambar hingga Kuis Ala Millionaire

Kompetisi ini dirancang untuk menjangkau berbagai jenjang pendidikan. Untuk tingkat SD, peserta berlomba dalam kategori Tebak Gambar Bahasa Ternate. Sementara siswa SMP dan SMA bersaing di kategori Cerdas Cermat. Kategori paling unik adalah kuis "Who Wants to Be a Millionaire Bahasa Ternate" yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa.

Para pemenang di setiap kategori mendapatkan plakat, sertifikat, dan hadiah uang tunai. Pada kategori Cerdas Cermat, juara pertama diraih pasangan Tiara Asri dan Agni Trivani Saurangi. Disusul Desila D. Rumain dan Alfiara Detirta Gailea sebagai juara kedua, serta Rizkal Bambang dan Devika Nindi Umasugi di posisi ketiga.

Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah dan Harapan ke Depan

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara mengingatkan bahwa bahasa daerah kini menghadapi ancaman kepunahan. Senada dengan itu, Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan yayasan dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

Wakil Wali Kota Ternate mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi ini. Ia menilai kegiatan edukatif yang memiliki dampak sosial seperti ini perlu menjadi agenda rutin, terutama pada momen-momen penting seperti Hari Pendidikan Nasional, Hari Kemerdekaan, maupun Hari Jadi Kota Ternate.

Ipox berharap kegiatan serupa bisa menjadi agenda rutin di sekolah-sekolah. Ia menilai lomba kebahasaan yang dulu sering digelar kini mulai berkurang, sehingga perlu dihidupkan kembali. “Ini langkah nyata menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Bahasa Ternate sekaligus mendorong penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Reporter: Saiful
Sumber: cermat.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top