MALUKU UTARA — Data terbaru dari Kaspersky Security Network (KSN) yang dirilis 13 Agustus 2026 menunjukkan gambaran lengkap lanskap ancaman siber di kawasan Asia Pasifik. Total ada 75 juta serangan daring yang berhasil diblokir sepanjang Januari hingga Juni 2026. Rinciannya, 3,4 juta serangan backdoor, 2,4 juta serangan password stealer, dan seperempat juta insiden ransomware.
Angka ini memang menunjukkan sedikit penurunan di beberapa kategori dibanding periode sebelumnya. Tapi Sergey Lozhkin, Kepala Riset Asia Pasifik dan META di Kaspersky GReAT, menegaskan hal itu tidak berarti ancaman melemah. Justru sebaliknya — pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pengintaian dan mempercepat pengembangan malware, sehingga serangan jadi lebih cepat dan adaptif.
Studi terbaru Kaspersky menemukan hampir satu dari tiga organisasi di dunia mengalami insiden terkait rantai pasokan dalam setahun terakhir. Di China, angkanya lebih tinggi lagi: 40% bisnis melaporkan adanya risiko rantai pasok.
Modusnya bukan lagi menyerang langsung target, melainkan menyusup ke perangkat lunak yang sah dan dipercaya. Salah satu kasus yang disorot adalah penyusupan ke infrastruktur pembaruan antivirus eScan dari Microworld Technologies, perusahaan asal Mumbai. Server pembaruan tepercaya itu disalahgunakan untuk menyebarkan malware ke pelanggan — produk keamanan berubah jadi alat penyebar infeksi.
Kasus lain yang tak kalah penting melibatkan Notepad++, editor teks open-source yang sangat populer di kalangan developer dan profesional TI. Sebuah penginstal berbahaya menyebarkan Trojan backdoor yang memungkinkan penyerang mempertahankan akses ke sistem terdampak selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi.
Kaspersky GReAT juga memantau serangan rantai pasok aktif yang menargetkan situs resmi Daemon Tools sejak April 2026. Perangkat lunak emulasi drive virtual untuk Windows ini disusupi malware yang dikemas bersama perangkat lunak aslinya. Kampanye ini sudah berdampak pada lebih dari 2.000 perangkat yang terinfeksi dari jarak jauh.
Pola serangan ini yang paling berbahaya: pengguna mengira mereka mengunduh aplikasi resmi dari situs resmi, padahal file yang masuk sudah mengandung malware. Untuk perusahaan, dampaknya bisa jauh lebih luas karena satu perangkat terinfeksi bisa menjadi pintu masuk ke seluruh jaringan internal.
Dari 12 negara yang paling sering menjadi target Advanced Persistent Threats (APT) di dunia, lima di antaranya berada di Asia Pasifik: China, India, Myanmar, Pakistan, dan Vietnam. APT sendiri adalah kampanye siber terarah yang sangat canggih — penyerang menyusup diam-diam ke jaringan dan bertahan dalam waktu lama untuk spionase atau mencuri data sensitif.
Kaspersky GReAT saat ini memantau lebih dari 900 kelompok APT di seluruh dunia. Untuk tahun 2025, tiga kategori insiden dengan tingkat keparahan tertinggi secara global adalah APT (24%), rekayasa sosial (15%), dan malware (12%).
Bagi pengguna individu dan korporasi di Indonesia, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dari laporan ini:
Laporan ini menegaskan satu hal: keamanan siber bukan lagi soal melindungi perangkat dari virus, tapi memastikan setiap lapisan perangkat lunak yang kita gunakan benar-benar bersih. Terutama ketika aplikasi tepercaya sekalipun bisa menjadi vektor serangan.