TERNATE — Gubuk berdinding papan lapuk itu berdiri di sudut Pasar Gamalama, tepat di antara tumpukan sampah dan lalu-lalang pedagang. Di sinilah Rinto, sang buruh bongkar muat, membesarkan anak-anaknya sejak 22 tahun lalu. Terik matahari siang membuat udara di sekitarnya kian pengap, bercampur aroma amis yang menyengat.
Rinto, 46 tahun, bukan sekadar penghuni liar. Ia menggantungkan hidup dari pasar tersebut, bekerja sebagai buruh bongkar muat barang dagangan dan ikut membersihkan sampah di sekitar tempat tinggalnya. Pekerjaan itu ia lakoni setiap hari demi menyambung hidup keluarga kecilnya.
Di tengah keterbatasan itu, seorang anak lelaki berdiri menebar senyum di depan pintu rumah mereka. Senyum itu menjadi pemandangan kontras di antara bau sampah dan hiruk-pikuk aktivitas pasar yang tak pernah sepi.
Rumah yang mereka tempati bukan sekadar tempat berteduh. Lebih dari dua dekade, gubuk itu menjadi saksi perjuangan Rinto bertahan hidup di tengah kota. Namun, kondisi tempat tinggalnya jauh dari kata layak huni.
Aktivitas bongkar muat di Pasar Gamalama memang tak pernah berhenti. Ampas ikan berserakan, bercampur sampah plastik dan sisa sayuran. Bau menyengat menjadi aroma khas yang harus ditahan setiap hari oleh Rinto dan keluarganya.
Meski demikian, Rinto tak punya banyak pilihan. Pekerjaan sebagai buruh bongkar muat adalah sumber penghasilan utama yang menopang kebutuhan keluarganya. Ia harus menerima kenyataan tinggal di lingkungan yang jauh dari sehat demi dekat dengan tempatnya mencari nafkah.
Di tengah riuhnya Pasar Gamalama, keluarga Rinto masih menanti kepastian akan hunian yang lebih layak. Keberadaan mereka di sudut pasar tersebut menjadi potret nyata persoalan permukiman kumuh yang masih membelit sejumlah kota di Maluku Utara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai relokasi atau program perbaikan rumah bagi warga yang bermukim di area Pasar Gamalama. Rinto dan keluarganya pun masih bertahan di gubuk itu, menunggu perubahan yang tak kunjung tiba.