TERNATE — Sebanyak puluhan delegasi dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri pembukaan Rakernas JKPI ke-12 yang berlangsung hingga 29 Agustus 2026. Ajang ini menjadi ruang pertukaran gagasan tentang pengelolaan warisan budaya, sejarah, dan pengembangan ekonomi perkotaan.
Dalam sambutannya, Tauhid menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan yang tengah dilanda bencana. Ia menyebut sejumlah delegasi dari daerah terdampak terpaksa membatalkan kehadiran untuk kembali bertugas di wilayah masing-masing.
“JKPI bukan hanya tentang kota pusaka, sejarah dan kebudayaan, tetapi juga tentang persaudaraan, kepedulian dan solidaritas antar daerah,” ujar Tauhid di hadapan peserta.
Tauhid menjelaskan, Ternate bersama Tidore, Bacan, dan Jailolo merupakan bagian dari Kesultanan Moloku Kie Raha yang sejak lama dikenal sebagai penghasil cengkih dan pala. Menurut dia, perdagangan rempah kala itu tidak hanya membentuk relasi ekonomi, tetapi juga menghubungkan Maluku Utara dengan berbagai belahan dunia.
“Secara historis, Pulau Ternate merupakan titik penting politik dunia bersama kota-kota lainnya di Indonesia pada masa lalu sebagai bandar jalur rempah,” katanya.
Sejarah panjang tersebut menjadi pijakan dalam pelaksanaan Rakernas kali ini. Identitas rempah tidak hanya diposisikan sebagai catatan masa lalu, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari strategi pembangunan kota melalui konsep City Branding “Ternate Kota Rempah”.
Tauhid menilai penguatan identitas budaya dan potensi lokal menjadi kunci menjawab tantangan perkotaan saat ini, mulai dari ketimpangan ekonomi, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan. Ia menekankan pentingnya menggali potensi lokal secara bijaksana dan adil.
“Konsep ekstraktif perlu dimaknai positif, yaitu kemampuan untuk menggali potensi lokal secara bijaksana dan adil,” jelasnya.
Salah satu contoh nyata adalah revitalisasi Benteng Oranje yang dimulai sejak 2012. Kawasan bersejarah ini kini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat aktivitas kreatif sejak 2021.
“Di dalam benteng ini ada tiga DNA yang memang mempengaruhi terkait dengan kreatif hub. Yang pertama komunitas, kedua ide, dan ketiga ruang,” ungkap Tauhid.
Rangkaian kegiatan Rakernas JKPI ke-12 mencakup festival gastronomi serta berbagai agenda yang mengangkat sejarah dan literasi rempah. Sehari sebelumnya, panitia menggelar pra-Rakernas bersama budayawan dan jurnalis senior Taufik Rahzen, komunitas kreatif, serta penggiat literasi rempah di Benteng Oranje.
Tauhid berharap forum ini tidak berhenti sebagai ajang kebudayaan semata, tetapi mampu melahirkan gagasan konkret tentang pengelolaan kota, pelestarian pusaka, dan pengembangan ekonomi daerah. Ia juga berharap kehadiran para delegasi memberikan dampak langsung bagi pergerakan ekonomi masyarakat Ternate selama kegiatan berlangsung.
“Harapannya tentu kedatangan para delegasi ini juga memberikan dampak bagi masyarakat, terutama terhadap pergerakan ekonomi selama kegiatan JKPI berlangsung,” pungkasnya.