TERNATE — Kota Ternate sedang menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan: membangun wajah kota modern tanpa kehilangan jiwanya. Di tengah gempuran beton dan aspal, situs-situs pusaka seperti Benteng Oranje, Kastela, hingga Kota Janji masih berdiri sebagai saksi bisu kejayaan perdagangan rempah dunia. Namun, keberadaannya kini diuji oleh laju pembangunan yang kerap mengabaikan identitas lokal.
Rakernas JKPI yang digelar di kota ini diharapkan menjadi titik balik. Pertemuan antar daerah itu bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan pengakuan bahwa Ternate menyimpan warisan sejarah kelas dunia yang menghubungkan Nusantara dengan bangsa-bangsa Eropa berabad-abad lalu.
Keberadaan benteng-benteng peninggalan kolonial dan Kesultanan Ternate selama ini lebih banyak berfungsi sebagai objek wisata yang dikunjungi sesekali. Padahal, kawasan cagar budaya tersebut menyimpan potensi besar untuk dijadikan ruang diskusi, pusat kesenian, hingga lokasi pertunjukan seni kontemporer.
Jika dirawat dengan pendekatan yang tepat, kawasan pusaka bisa menjadi ruang hidup bagi warga. Kegiatan ekonomi kreatif berbasis sejarah pun bisa tumbuh di sana, memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar tanpa harus merusak nilai historis bangunan.
Persoalan klasik yang dihadapi hampir semua kota pusaka di Indonesia adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur dengan pelestarian sejarah. Tata ruang kota sering kali disusun tanpa mempertimbangkan keterkaitan kawasan dengan Kesultanan Ternate atau ekosistem Lereng Gunung Gamalama.
Modernisasi tidak boleh seragam. Jika semua kota dibangun dengan pola yang sama—gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan jalan lebar—maka Ternate akan kehilangan daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain. Karakter pesisir dan sejarah bahari harus menjadi dasar perencanaan kota ke depan.
Persoalan paling mendesak bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan bagaimana menceritakan kembali kisah para Sultan, pelaut, dan diplomasi rempah kepada generasi muda. Narasi sejarah yang hanya tersimpan di museum atau arsip akan semakin ditinggalkan.
Dibutuhkan terjemahan baru dalam bentuk film, musik, fotografi, desain, hingga konten digital. Anak muda harus diberi ruang untuk menginterpretasikan sejarah dengan medium yang mereka kuasai, sehingga ingatan kolektif tentang kejayaan Ternate tidak berhenti di generasi tua.
Jejak peradaban di kota ini bukan hanya milik Maluku Utara. Ternate adalah bagian penting dari sejarah Indonesia dan dunia, terutama dalam konteks jalur rempah yang pernah menjadi komoditas paling berharga di Eropa. Warisan ini merupakan aset diplomasi budaya yang tidak dimiliki banyak kota lain.
Kota yang besar bukan diukur dari tingginya gedung, melainkan kuatnya ingatan kolektif dan kokohnya identitas. Jika sejarah dijadikan kompas dalam setiap kebijakan tata ruang dan pembangunan, Ternate akan mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar infrastruktur fisik kepada generasi penerus.