TERNATE — RSUD dr. H. Chasan Boesoirie resmi mengoperasikan layanan kardiovaskular terpadu dengan hadirnya Cath Lab untuk diagnostik dan intervensi. Peresmian gedung baru ini bertepatan dengan pelaksanaan Proctorship Intervensi Non-Bedah (INB) perdana serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Multipartit Jejaring Pengampuan Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah.
Sherly menegaskan, kehadiran fasilitas ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan kecepatan penanganan yang menentukan keselamatan pasien. "Ini tentang kecepatan. Keterlambatan sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Negara hadir memastikan pelayanan merata, sehingga pasien darurat dapat tertangani dengan tepat di daerahnya sendiri," ujarnya dalam sambutan peresmian.
Data internal rumah sakit mencatat lonjakan signifikan kasus penyakit jantung sepanjang periode 2020 hingga 2025. Pasien rawat jalan meningkat dari 439 menjadi 820 kasus, sementara pasien rawat inap naik dari 291 menjadi 580 kasus.
Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Rosita Alkatiri, M.Kes, menyebut pengembangan fasilitas ini merupakan jawaban atas tantangan geografis Maluku Utara yang terdiri dari ribuan pulau. "Kebutuhan masyarakat terus tumbuh. Pengembangan fasilitas harus dibarengi peningkatan kompetensi SDM, teknologi, dan jejaring rujukan yang kuat," jelasnya.
Pengembangan layanan jantung di RSUD Chasan Boesoirie tidak berjalan sendiri. Rumah sakit mendapat pendampingan dari jejaring pengampuan nasional hingga 2031 yang melibatkan RS Jantung Harapan Kita sebagai koordinator nasional, RSUD Dr. Soetomo untuk pengampuan bedah jantung, dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk pengampuan intervensi non-bedah.
Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, SpJP(K), M.A.R.S, menyampaikan kolaborasi ini bertujuan mendampingi rumah sakit daerah hingga mampu melayani pasien secara mandiri dengan standar nasional. RSUD Chasan Boesoirie juga tengah mempersiapkan pengembangan layanan Bedah Jantung Terbuka secara bertahap.
Sherly menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) medis di tengah transformasi layanan rumah sakit. Ia mengapresiasi perubahan yang dinilai kian responsif, mulai dari distribusi obat hingga kebersihan fasilitas.
"Rumah sakit bukan hanya soal gedung, tapi kapasitas. Saya berharap PKS ini menjadi awal pembinaan terstruktur bagi dokter muda di Maluku Utara agar kompetensi mereka terus meningkat," tambah Sherly.
Usai peresmian, Gubernur bersama Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Duta Besar Kerajaan Belanda, serta tim ahli nasional melakukan inspeksi langsung ke ruang operasi dan area kateterisasi. Pengecekan dilakukan untuk memastikan sterilitas serta kesiapan seluruh sarana sebelum dioperasikan melayani masyarakat.