TERNATE — Namanya mungkin tak setenar tokoh pergerakan lainnya, tetapi jejak Suaibad Karto Ambar dalam sejarah kemerdekaan di Maluku Utara tak bisa diabaikan. Perempuan yang akrab disapa Sueba Ambar ini adalah putri bungsu dari pasangan Abdullah Karto dan Maryam Samsu, yang keluarganya berasal dari Jogjakarta dan menetap di bilangan Santiong, Ternate.
Namanya terabadikan dalam buku "Kepulauan Rempah-rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950" karya Adnan Amal. Sejarawan itu sempat mewawancarai langsung Suaibad di rumahnya. Dari situlah diketahui kisah bagaimana ia berdiri di barisan terdepan ketika PNI mulai menyebarkan pengaruhnya di Ternate.
PNI lahir dari klub belajar "Algemeene Studie Club" yang digagas Soekarno bersama Ali Sostroamidjojo, Soenarjo, dan Sartono di Bandung. Pada 4 Juli 1927, mereka sepakat membentuk Perserikatan Nasional Indonesia yang kemudian berubah nama menjadi Partai Nasionalis Indonesia setelah kongres pertama di Surabaya, 27-30 Mei 1928.
Dua tahun setelah partai berdiri, pada 1929, tiga propagandis PNI tiba di Ternate. Sambutan warga, terutama dari kalangan anak muda, sangat antusias. Suaibad menjadi perempuan pertama yang bergabung. Ketertarikannya pada partai itu lahir dari kekaguman mendalam terhadap sosok dan gagasan Soekarno, yang asas perjuangannya berfokus pada pengentasan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat tertindas—prinsip yang kemudian dikenal sebagai marhaenisme.
Kedatangan PNI di Ternate langsung memicu kewaspadaan pemerintah kolonial Belanda. Sebelumnya, Belanda telah membubarkan paksa organisasi Budi Mulia. Tujuan PNI yang terang-terangan memperjuangkan "Indonesia Merdeka" dianggap sebagai ancaman serius.
Meski tiga propagandis itu tidak bertahan lama di Ternate karena situasi yang tak kondusif, pengaruhnya berhasil menular ke banyak aktivis muda seperti Sabtu Mataoga, Hasan Esa, dan Ahmad Bian. Pergerakan terus berlanjut dengan fokus bergeser ke bidang pendidikan. Banyak sekolah rakyat didirikan, organisasi kepanduan lahir, dan muncul berbagai organisasi lokal seperti Annaser pimpinan Ahmad Syechan Bahmid, Persatuan Tionghoa Islam, Persatuan Pemuda Islam, dan Persatuan Pedagang Arab Indonesia.
Di tingkat nasional, respons Belanda terhadap PNI sangat keras. Desember 1929, Soekarno ditangkap bersama sejumlah tokoh partai. Dalam persidangan yang berlangsung nyaris setahun, ia membacakan pleidoi berjudul "Indonesia Menggugat" pada 30 September 1930. Sebulan kemudian, Soekarno dinyatakan bersalah, ditahan di penjara Sukamiskin, dan PNI dibubarkan.
Kisah keteguhan Suaibad terekam dalam sebuah percakapan yang diceritakan sang cucu, Rita Ambar. Suatu ketika, Ibu Mega bertanya, "Sejak kapan ibu jadi anggota PNI?"
"Ibu pulang tanya ke bapak sejak kapan PNI ada—sejak itu saya bergabung," jawab Ibu Eba, panggilan akrab untuk Suaibad di usia senjanya.
Jawaban itu menegaskan bahwa keanggotaannya bukan sekadar ikut-ikutan. Sejak era kolonial, melewati pergolakan kemerdekaan, hingga Orde Baru memerintah dengan berbagai paksaan untuk beralih secara politis, Suaibad tetap "merah". Perempuan yang hidup melewati tiga zaman ini menjadi saksi hidup bagaimana ideologi yang diyakini sejak muda dipertahankan sampai akhir hayatnya.