MALUKU UTARA — Kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami imbas erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian serius pemerintah. Namun, berdasarkan evaluasi terbaru PVMBG, pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar.
PVMBG mencatat erupsi yang terjadi pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB itu terinterpretasi sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava. Dentuman dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran merupakan bagian dari aktivitas erupsi yang masih berlangsung.
Pada periode pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00-06.00 WIB, kegempaan mencatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi 21.600 detik. Kondisi cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah barat laut. Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik.
Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunungapi untuk sekadar menyaksikan atau mengambil gambar erupsi. Imbauan ini dikeluarkan karena masih adanya potensi lontaran material dari kawah aktif yang membahayakan keselamatan.
BNPB bersama PVMBG dan BPBD menekankan kewaspadaan harus berjalan beriringan dengan ketenangan. Masyarakat tidak perlu panik terhadap isu tsunami, tetapi tetap diminta mengikuti perkembangan informasi resmi dari kanal pemerintah.
Dalam menghadapi aktivitas erupsi yang masih berlangsung, terdapat tiga hal utama yang menjadi fokus. Pertama, pemerintah daerah bersama unsur terkait harus memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya melalui pengawasan dan patroli di kawasan terlarang.
Kedua, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan dengan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan. Ketiga, masyarakat diminta mematuhi arahan petugas dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kepanikan.
PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan agar tidak ada aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Pemerintah terus memantau perkembangan gunung dan akan menyampaikan informasi apabila terdapat perubahan kondisi yang signifikan.
Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, BNPB, serta kanal resmi kebencanaan lainnya. Evaluasi terhadap aktivitas maupun morfologi gunungapi akan dilakukan secara berkala maupun sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan.