HALMAHERA UTARA — Program Diktisaintek Berdampak 2026 menjadi payung kegiatan tersebut. Peserta yang hadir terdiri dari petani kelapa, pemuda desa, dan pengelola usaha kelapa setempat. Tim PKM diketuai Dr. Marwan Man Soleman, S.E., M.Si, bersama Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si, dan Adysabzan Tomario Krois, MBA. Empat mahasiswa Program Studi Manajemen FEB Unkhair ikut dilibatkan, yakni Meliza Amelia Putri, Eka Susilawati Said, Arman Husemahu, dan Faruk Duwila.
Galela termasuk daerah penghasil kelapa di Maluku Utara. Sebagian besar hasil kebun selama ini dijual dalam bentuk kelapa butir dan kopra. Pola itu membuat petani menghadapi harga yang berfluktuasi dan bergantung pada pembeli.
Rantai penjualan yang panjang memperbesar masalah. Petani, pengumpul, pedagang antar pulau, hingga pabrik membuat nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar desa.
"Setiap tahap mengambil untung, sehingga petani hanya menerima sebagian kecil dari harga akhir. Nilai tambah dari pengolahan lebih banyak dinikmati oleh pihak lain di luar desa," ujar Adysabzan.
Adysabzan menilai kelapa Galela punya potensi ekonomi jauh lebih besar jika tidak berhenti sebagai kopra. Daging kelapa bisa diolah menjadi minyak dan Virgin Coconut Oil (VCO). Tempurung menjadi briket, sabut menjadi cocopeat, nira bunga kelapa menjadi gula semut, sedangkan air kelapa muda dapat diolah menjadi nata de coco.
"Satu pohon kelapa itu banyak produknya. Makin banyak bagian kelapa yang diolah sendiri, makin besar bagian nilai yang tinggal di desa," bebernya.
Tim PKM FEB Unkhair memperkenalkan pengelolaan rantai pasok, mulai dari kebun hingga pembeli. Petani didorong tidak hanya memperbaiki kualitas kopra, tetapi juga memperkuat posisi tawar dan mulai mengembangkan produk turunan. Ada lima langkah yang ditawarkan:
Pada sesi diskusi, peserta mengungkapkan sebagian besar kopra masih dijual kepada pengumpul dengan harga yang ditentukan pembeli. Pencatatan biaya dan hasil penjualan serta perbandingan harga di luar desa juga belum menjadi kebiasaan.
Dari diskusi itu, briket dan VCO menjadi dua produk yang paling diminati untuk dikembangkan. Alasannya, bahan bakunya tersedia dan sebagian peralatan pengolahan telah tersedia di gudang mitra.
Anggota Tim PKM, Jeri Cahyadi Saputra, mengatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan pendampingan bertahap. "Satu sampai tiga bulan ke depan kami mendorong penguatan kelompok tani, kesepakatan standar mutu kopra, dan pembukuan sederhana. Tiga sampai enam bulan berikutnya uji coba pengolahan VCO dan briket skala kecil, termasuk uji pasar di Galela dan Tobelo," jelasnya.
Tim juga akan membantu menghubungkan kelompok tani dengan pembeli maupun industri pengolahan melalui pendampingan dari kampus. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa menerapkan pengetahuan langsung di masyarakat.