MOROTAI — Tim gabungan PUKAT Maluku Utara dan Blue Ventures memulai tahap perkenalan sekaligus pemetaan lapangan di tiga desa pesisir Kecamatan Morotai Selatan Barat (Morselbar). Desa Waringin dipilih menjadi basis kegiatan selama sepekan, terhitung 25 September hingga 2 Oktober 2026.
Pendampingan ini memakai pendekatan community-based fisheries management (CBFM) atau pengelolaan perikanan berbasis masyarakat. Pola itu menempatkan warga desa sebagai pengambil keputusan utama atas wilayah tangkap dan sumber daya laut di sekitar mereka.
Rangkaian kerja lapangan awal mencakup empat pilar: CBFM, relasi pemangku kepentingan dan tata kelola (stakeholder relations/SR), inklusi keuangan (financial inclusion/FI), serta ketahanan pangan (food security/FS).
Selama sepekan di lapangan, tim menjalankan lima kegiatan pembuka. Pertama, sosialisasi dan peningkatan kesadaran warga soal pengelolaan laut.
Kedua, pemetaan pemangku kepentingan lokal. Ketiga, penjangkauan ke instansi pemerintah terkait. Keempat, sosialisasi ketahanan pangan dan penguatan keterlibatan komunitas.
Kelima, survei profil sosial-ekonomi di ketiga desa sebagai data dasar (baseline data). Survei itu menjadi acuan penyusunan program lanjutan.
Direktur Program PUKAT Maluku Utara, Muhammad Assagaf, menyebut kunjungan lapangan ini sebagai tahap pembuka rangkaian pendampingan jangka panjang. Menurutnya, total ada puluhan agenda kerja yang akan dijalankan.
"Kegiatan sepekan ini menjadi awal dari rangangkaian kegiatan dengan fokus pada empat pilar yang diimplementasikan dalam 48 kegiatan, dengan tujuan akhir menjadi fondasi yang kokoh dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiga desa melalui pengelolaan perikanan berbasis masyarakat sesuai dengan potensi desa masing-masing," ujar Muhammad.
Dari hasil penjangkauan awal, tim mencatat ketiga desa punya karakteristik sosial, kebutuhan, dan tingkat kesiapan yang berbeda. Karena itu, implementasi 48 kegiatan mendatang akan disesuaikan secara khusus (tailor-made) dengan kondisi serta potensi masing-masing desa.
Pemerintah desa menyambut positif program ini. Kepala Desa Usbar Pantai dan Kepala Desa Tiley Pantai menyatakan dukungan penuh atas terpilihnya wilayah mereka sebagai lokus pendampingan.
"Kami berdua sangat mendukung dan merasa beruntung bahwa Desa Usbar Pantai dan Desa Tiley Pantai menjadi pilihan di antara banyak desa pesisir di Kecamatan Morselbar. Semoga kami dan masyarakat kami konsisten untuk maju, dan ke depan kegiatan ini bermanfaat serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Usbar Pantai dan Tiley Pantai, dan umumnya desa lain yang menjadi lokus dari kegiatan ini," ujar Kepala Desa Usbar Pantai dan Kepala Desa Tiley Pantai secara bersama-sama.
Pendampingan dirancang berlangsung hampir dua tahun, hingga Juni 2028. Targetnya, terbangun tata kelola laut yang berkelanjutan sekaligus peningkatan kesejahteraan ekonomi warga pesisir Morotai.
Morotai Selatan Barat merupakan kawasan pesisir dengan desa-desa yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Pendekatan berbasis masyarakat dinilai relevan karena warga paling memahami kondisi perairan setempat.
Keberhasilan program ini akan diukur dari kesiapan tiap desa menjalankan pengelolaan perikanan secara mandiri. Data dasar sosial-ekonomi yang dikumpulkan pekan ini menjadi titik awal pengukuran tersebut.