TALIABU — Pengeboran menyasar akuifer atau lapisan air tanah stabil di kedalaman puluhan meter. Selama empat bulan terakhir, warga di dua desa tersebut kesulitan mendapatkan air bersih karena kemarau panjang.
Kepala Desa Holbota, Harjo Djanu, menyebut kondisi itu memaksa warga menghemat air untuk minum, memasak, hingga mandi. Kebutuhan rumah tangga jadi yang paling terdampak.
Warga Holbota selama ini hanya mengandalkan sumur gali dan mata air kecil. Keduanya sangat bergantung pada musim hujan.
"Kalau kemarau seperti sekarang, sumur gali langsung kering. Dengan sumur bor dari BWS ini, kami harap air bisa keluar terus meski musim kemarau," jelas Harjo.
Menurutnya, kekeringan tidak hanya menyulitkan kebutuhan rumah tangga. Aktivitas warga sehari-hari juga terancam karena pasokan air yang minim.
Harjo mengatakan inisiatif pengeboran lahir dari kondisi warga yang semakin sulit mendapatkan air. Kemarau panjang yang melanda wilayah itu sudah berjalan empat bulan.
"Sudah empat bulan ini warga kami susah mendapatkan air bersih," ujar Harjo, Minggu (11/10/2026).
Desa Holbota dan Desa Woyo tercatat sebagai desa pertama di Pulau Taliabu yang berhasil menggandeng BWS Maluku Utara untuk menghadirkan fasilitas air bersih.
Pengeboran sumur diharapkan mengatasi krisis air bersih secara bertahap dan berkelanjutan. Warga berharap air bisa terus mengalir meski musim kemarau datang lagi.
Tim teknis BWS Maluku Utara masih bekerja di lokasi. Hasil pengeboran akan menentukan apakah sumber air tanah di kedalaman puluhan meter itu cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan warga.