MALUKU UTARA — Badan konservasi Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi 51 orang utan dari sejumlah lokasi di provinsi itu antara 6 Agustus hingga 19 Oktober 2025. Data Kementerian Kehutanan mengindikasikan jumlah orang utan yang diselamatkan di Kalimantan selama beberapa bulan terakhir bisa mencapai 96 ekor, meski angka itu belum terkonfirmasi penuh. Evakuasi berlangsung di tengah karhutla yang memperburuk kualitas udara di sebagian Asia Tenggara.
Pada evakuasi teranyar, tiga lembaga konservasi mengamankan seekor orang utan jantan berusia 20 tahun. Prosesnya melibatkan pembiusan, pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, lalu pengiriman satwa ke pusat rehabilitasi.
Karhutla yang berlangsung berbulan-bulan memicu polusi, penutupan sekolah, dan lonjakan gangguan pernapasan pada manusia maupun hewan. Asap juga membatasi aktivitas luar ruangan di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste.
Orang utan termasuk satwa yang paling rentan karena habitatnya berada tepat di area yang terbakar. Perpindahan ke pusat rehabilitasi menjadi jalur penyelamatan utama ketika kawasan hutan tidak lagi layak huni dalam jangka pendek.
Lembaga-lembaga konservasi menegaskan evakuasi di Hampangen dijalankan dengan sangat hati-hati. "Setelah orang utan dibius, tim medis segera melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum membawa satwa tersebut ke pusat rehabilitasi," demikian pernyataan mereka.
Pembiusan dipakai agar proses pemindahan tidak melukai satwa maupun tim. Pemeriksaan kesehatan menjadi syarat sebelum orang utan diterima di fasilitas rehabilitasi.
Data Kementerian Kehutanan pekan ini mengindikasikan jumlah orang utan yang diselamatkan di Kalimantan bisa mencapai 96 ekor. Angka itu lebih tinggi dari 51 ekor yang dilaporkan badan konservasi Kalimantan Barat bersama YIARI.
Belum ada konfirmasi resmi yang menjelaskan selisih tersebut, termasuk apakah perbedaan berasal dari cakupan wilayah, periode penghitungan, atau metode pendataan. Pihak berwenang belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut.
Pada Minggu (18/10), tingkat polusi di kawasan terdampak kembali masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Kabut asap beracun menyelimuti banyak area di Asia Tenggara bagian selatan.
IQAir, pemantau kualitas udara berbasis di Swiss, kembali menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur dalam daftar lima kota besar dengan polusi tertinggi di dunia. Kebakaran di Kalimantan dan Sumatra terus menghasilkan asap, diperparah fenomena cuaca El Niño yang intens.
Bagi warga di wilayah terdampak, kondisi ini berarti pembatasan aktivitas luar ruangan dan risiko gangguan pernapasan yang berulang. Bagi satwa, evakuasi menjadi satu-satunya opsi ketika koridor hutan sudah tidak aman.