MALUKU UTARA — Satu model listrik berhasil menjual 4.840 unit pada September 2026, lebih banyak daripada gabungan Honda Brio Satya, Toyota Agya, dan Daihatsu Ayla yang hanya 4.200 unit. Selisih harga yang nyaris hilang—Atto 1 Dynamic Rp205 juta versus Brio Satya E CVT Rp206,7 juta—membuat pilihan konsumen bergeser ke EV. Tapi kemenangan ini perlu dibaca hati-hati: angka Atto 1 justru turun dari 5.538 unit pada Agustus.
Data penjualan September 2026 menunjukkan pergeseran yang jarang terjadi di segmen mobil murah Indonesia. BYD Atto 1 mencatat 4.840 unit, sementara tiga hatchback LCGC yang selama ini jadi tulang punggung pasar entry-level—Honda Brio Satya, Toyota Agya, dan Daihatsu Ayla—kalau digabung hanya 4.200 unit.
Pola ini bukan sekali muncul. Pada Agustus, Atto 1 malah lebih tajam lagi dengan 5.538 unit, sedangkan ketiga hatchback Jepang itu total 4.095 unit. Artinya, fenomena ini sudah berlangsung dua bulan berturut-turut, bukan lonjakan sesaat.
Faktor harga jadi kunci utama. Daftar harga mobil listrik Juni 2026 mematok Atto 1 varian Dynamic di Rp205 juta dan Premium Rp245 juta. Pada daftar Februari 2026, Brio Satya E CVT dibanderol Rp206,7 juta dan Agya 1.2 G A/T Rp197,7 juta.
Dengan angka itu, Atto 1 Dynamic justru Rp1,7 juta lebih murah daripada Brio Satya E CVT. Terhadap Agya, selisihnya hanya Rp7,3 juta—tipis untuk ukuran mobil baru. Pembeli yang membandingkan angka OTR tanpa menghitung biaya kepemilikan akan langsung melihat Atto 1 sebagai opsi serius.
Di daftar harga yang sama, Geely EX2 Pro dan Max serta Jaecoo J5 EV Standard berada di rentang Rp239,9 juta hingga Rp279,9 juta. Angka itu membuat Atto 1 punya ruang sendiri di kelas EV murah—setidaknya sampai pesaing menurunkan harga.
Perlu dicatat, perbandingan ini murni soal harga jual. Bahan tidak menyebut biaya kepemilikan seperti pajak tahunan, asuransi, atau biaya pengisian, yang secara umum masih lebih tinggi untuk EV dibanding LCGC berbahan bakar bensin.
Atto 1 menang volume, tapi tren bulanannya sendiri menurun: dari 5.538 unit pada Agustus ke 4.840 unit pada September. Ketiga hatchback Jepang justru naik tipis dari 4.095 ke 4.200 unit. Selisih keduanya menyempit, meski Atto 1 masih di depan.
Kesimpulan soal "waktunya tinggalkan LCGC" terlalu dini. Yang lebih akurat: konsumen entry-level kini punya alternatif listrik dengan harga nyaris sama, dan sebagian mulai memilihnya. Apakah tren ini berlanjut bergantung pada harga, insentif, dan kesiapan infrastruktur pengisian—tiga hal yang tidak dibahas dalam data penjualan ini.