MALUKU UTARA — Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,67% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), memimpin penguatan bursa Asia yang bergerak variatif. Investor mencermati hasil awal pemilu sela Amerika Serikat yang mengindikasikan peluang Partai Demokrat menguasai Kongres, memunculkan spekulasi kebuntuan politik di Washington. Di sisi lain, Nikkei 225 Jepang justru anjlok 3,19% setelah kembali dibuka usai libur.
Pergerakan bursa Asia terbelah pada Rabu (4/11/2026). Kospi Korea Selatan mencatat penguatan paling tajam di kawasan, sementara Jepang dan Hong Kong bergerak ke arah sebaliknya setelah jeda perdagangan sehari sebelumnya.
Hasil awal pemilu sela AS menjadi faktor utama yang dicermati pelaku pasar. Indikasi kemenangan Partai Demokrat di Kongres membuka spekulasi bahwa pemerintahan akan menghadapi kebuntuan politik, kondisi yang biasanya menyulitkan lahirnya kebijakan fiskal baru.
Indeks Kospi melonjak 1,67%, menjadikannya indeks dengan kenaikan terbesar di Asia pada sesi tersebut. Penguatan terjadi di tengah arus masuk modal ke aset berisiko Korea Selatan.
Sebaliknya, pasar saham Jepang bergerak melemah begitu kembali dibuka usai libur pada Selasa (3/11). Indeks Nikkei 225 turun 3,19%, sedangkan indeks Topix yang lebih luas terkoreksi 1,83%.
Penurunan Nikkei terjadi setelah bursa Jepang absen satu hari dari perdagangan. Koreksi ini mencerminkan penyesuaian harga terhadap sentimen global yang berkembang selama libur.
Kontrak berjangka indeks Hang Seng mengindikasikan potensi penurunan 0,5% pada perdagangan di Hong Kong. Sinyal pelemahan tersebut sejalan dengan sikap hati-hati investor terhadap aset Asia Utara.
Pelaku pasar mencermati dampak hasil pemilu sela terhadap arah kebijakan ekonomi AS ke depan. Kongres yang dikuasai partai berbeda dari presiden berpotensi mempersulit pengesahan stimulus maupun paket belanja baru.
Bagi investor di kawasan, kebuntuan politik di Washington berarti ketidakpastian yang lebih panjang soal arah suku bunga dan kebijakan dagang. Dua faktor itu selama ini menjadi penentu utama aliran modal ke pasar emerging Asia, termasuk Indonesia.
Pergerakan variatif bursa Asia menunjukkan belum ada arah tunggal dari sentimen global. Korea Selatan menikmati penguatan, sementara Jepang menyerap koreksi yang tertunda akibat libur bursa.
Untuk pasar Indonesia, hasil pemilu sela AS perlu dicermati bersama perkembangan lain seperti arah imbal hasil obligasi AS dan pergerakan dolar. Kombinasi kebuntuan politik dan ekspektasi kebijakan moneter akan menentukan apakah aliran modal asing bertahan di aset emerging market.
Perdagangan sesi berikutnya akan menguji apakah penguatan Kospi berlanjut atau justru terseret pelemahan Nikkei dan sinyal negatif dari Hong Kong.