7 Produk Lokal Maluku Utara yang Mendunia, dari Rempah Ekspor hingga Tenun Ikat Khas Ternate

Penulis: Fajar  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 19:25:31 WIB
Pala Ternate dan Tidore diekspor ke 20 negara dengan kadar minyak atsiri tinggi.

Pulau Tidore dan Ternate sejak abad ke-16 dikenal sebagai pusat produksi pala dan cengkih terbaik dunia. VOC dan pedagang Portugis berebut akses langsung ke sumbernya. Kini, warisan itu masih hidup—bukan hanya sebagai cerita sejarah, tapi sebagai produk nyata yang dikirim ke 20 negara.

Dari hasil bumi hingga kerajinan tangan, tujuh produk berikut memiliki jejak ekspor yang terverifikasi. Beberapa di antaranya bahkan sudah memiliki Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM. Berikut rinciannya.

1. Pala Ternate dan Tidore

Pala dari Maluku Utara punya kadar minyak atsiri 10–15%, lebih tinggi dari pala India atau Grenada. Daging buah, biji, dan fuli (selaput biji) semuanya bernilai ekspor. Pada kuartal I-2025, harga biji pala kering di tingkat petani mencapai Rp85.000–Rp110.000 per kilogram, tergantung grade.

Sentra produksi utama ada di Kecamatan Pulau Ternate, Pulau Tidore, dan Pulau Moti. Pembeli utama: perusahaan farmasi Eropa dan produsen minyak esensial di Amerika Serikat. Petani di Kelurahan Takome dan Dufa-Dufa sudah menjual langsung ke eksportir di Bitung dan Surabaya tanpa perantara tengkulak.

2. Cengkih Kering Afo

Cengkih Afo dari Ternate punya ciri tangkai merah kecokelatan dan aroma tajam. Produk ini masuk dalam daftar bumbu premium untuk industri rokok kretek di Jawa dan ekspor ke India serta Pakistan. Harga per kilogram cengkih kering standar ekspor di angka Rp65.000–Rp80.000 pada Februari 2026.

Pohon cengkih tertua di dunia—berusia lebih dari 400 tahun—masih berbuah di Kampung Tongole, Ternate Tengah. Dinas Pertanian setempat mencatat produksi cengkih Maluku Utara tahun 2025 mencapai 4.200 ton, dengan 60% di antaranya dikirim ke luar provinsi.

3. Tenun Ikat Gamalama

Tenun ikat khas Ternate dan Tidore menggunakan benang katun yang dicelup pewarna alami dari kulit kayu dan daun indigo. Motif khasnya: pola geometris “Cingkari” dan “Bidadari” yang merepresentasikan ombak dan burung endemik. Satu lembar kain ukuran 2 x 1,5 meter dihargai Rp350.000–Rp600.000 di galeri, dan bisa tembus Rp1,5 juta jika menggunakan benang emas.

Pengrajin utama berada di Kelurahan Kastela, Ternate Selatan, dan Desa Mareku, Tidore. Pada Oktober 2025, kain tenun Gamalama dipamerkan di Indonesia Fashion Week 2025 dan dipesan oleh desainer asal Jepang untuk koleksi musim semi 2026.

4. Madu Hutan Halmahera

Madu hutan dari Halmahera Barat dan Halmahera Timur punya kadar air di bawah 20% dan tingkat keasaman rendah—standar ekspor Uni Eropa. Warna cokelat kehitaman dengan rasa pahit-manis khas karena nektar dari bunga pohon pala dan cengkih. Harga jual di tingkat petani: Rp120.000–Rp150.000 per 500 ml.

Kelompok tani hutan di Kecamatan Jailolo dan Ibu Selatan mengelola 800 stup lebah madu Apis dorsata. Produksi tahun 2025 tercatat 12 ton, naik 30% dari tahun sebelumnya karena program restorasi hutan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku Utara.

5. Kopi Arabika Bacan

Kopi Arabika yang ditanam di lereng Gunung Sibela, Pulau Bacan, punya profil rasa fruity dengan aftertaste cokelat. Ketinggian kebun antara 800–1.200 mdpl membuat biji kopi berdensitas tinggi. Green bean kopi Bacan dijual Rp75.000–Rp90.000 per kilogram ke roaster di Jakarta dan Bali.

Pada 2024, kopi Bacan masuk dalam Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) dengan skor cupping 84,5. Petani di Desa Labuha dan Amasing sudah menerapkan sistem fermentasi alami tanpa bahan kimia—syarat wajib pembeli dari Eropa.

6. Minyak Kayu Putih Ternate

Minyak kayu putih dari daun Melaleuca leucadendra yang tumbuh di pesisir Ternate dan Tidore memiliki kadar sineol di atas 60%. Produk ini diekspor ke Malaysia dan Singapura untuk bahan baku obat gosok dan aromaterapi. Harga eceran di toko oleh-oleh Ternate: Rp35.000–Rp50.000 per 100 ml.

Penyulingan tradisional masih beroperasi di Kelurahan Kalumpang dan Kelurahan Mangga Dua. Satu kali proses distilasi memakan waktu 6–8 jam untuk menghasilkan 5–7 liter minyak murni dari 100 kg daun.

7. Ikan Cakalang Asap (Fufu)

Ikan cakalang asap khas Maluku Utara—disebut fufu—diolah dengan teknik pengasapan dingin menggunakan kayu cengkih. Hasilnya: daging padat, aroma smoky khas, dan daya tahan hingga dua minggu tanpa pendingin. Harga per ekor ukuran 1–1,5 kg di Pasar Higienis Ternate: Rp45.000–Rp60.000.

Sentra produksi fufu ada di Desa Rua, Pulau Tidore, dan Kelurahan Toboleu, Ternate Utara. Pada 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara mencatat ekspor fufu ke Belanda dan Australia sebanyak 18 ton—sebagian besar dikirim dalam bentuk beku vakum.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa produk paling laris dari Maluku Utara di pasar global?
Pala dan cengkih masih menjadi primadona. Data BPS 2025 mencatat nilai ekspor pala Maluku Utara mencapai 4,2 juta dolar AS, terutama ke Jerman dan Belanda.

2. Di mana bisa membeli tenun ikat Ternate secara langsung?
Pusat oleh-oleh di Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Tanah Tinggi, Ternate, atau langsung ke pengrajin di Kastela. Harga mulai Rp350.000 per lembar.

3. Apakah kopi Bacan bisa dibeli secara online?
Beberapa roaster specialty di Jakarta dan Bandung menjual kopi Bacan via marketplace. Pastikan ada label sertifikat SCAI dan tanggal sangrai.

4. Berapa lama waktu pengiriman fufu ke luar pulau?
Jika dikirim beku via kargo udara dari Bandara Sultan Babullah, sampai di Jakarta dalam 1–2 hari. Harga ongkir sekitar Rp50.000–Rp80.000 per kg.

5. Apakah madu hutan Halmahera punya sertifikasi organik?
Sebagian besar produk dari kelompok tani binaan BKSDA sudah bersertifikat organik dari LSO Indonesia. Cek logo SNI dan nomor registrasi pada kemasan.

Produk lokal Maluku Utara bukan barang baru di pasar dunia. Pala, cengkih, dan tenun ikat sudah puluhan tahun menembus batas provinsi. Yang membedakan sekarang: akses distribusi lebih pendek, sertifikasi mutu lebih ketat, dan pembeli langsung bisa menelusuri asal-usul barang—dari pohon di lereng Gunung Gamalama hingga meja konsumen di Rotterdam.

Reporter: Fajar
Back to top