MALUKU UTARA — Kehamilan membuat tubuh bekerja lebih keras. Cairan dibutuhkan untuk menambah volume darah, membentuk plasenta, dan memproduksi cairan ketuban yang melindungi janin. Kekurangan minum bisa mengganggu pencernaan dan sirkulasi nutrisi.
Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019 menetapkan kebutuhan air dasar perempuan dewasa sebesar 2.350 ml per hari. Saat hamil, angka ini bertambah 300 ml setiap trimester, menjadi sekitar 2.650 ml — setara 10–11 gelas ukuran 250 ml.
Konsensus Nasional POGI 2013 mencatat kisaran 2.450–2.650 ml per hari, atau 8–10 gelas. Rentang ini memberi ruang untuk perbedaan usia dan kondisi tubuh masing-masing ibu.
Perlu diingat, kebutuhan ini tidak kaku. Berat badan, aktivitas fisik, suhu lingkungan, dan morning sickness bisa mengubah angka ideal. Konsultasikan dengan dokter kandungan untuk dosis yang pas.
Air putih tetap pilihan utama. ACOG merekomendasikan 8–12 cangkir (64–96 ons) per hari untuk membantu pencernaan, pembentukan cairan ketuban, dan pembuangan zat sisa.
Air minum dalam kemasan (AMDK) juga boleh, asalkan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diwajibkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 62 Tahun 2024. Regulasi ini membedakan air mineral, air demineral, dan kategori lainnya, sekaligus menegaskan air yang dikemas harus aman diminum.
Yang terpenting, pastikan air bebas dari kontaminasi logam berat seperti timbal dan arsenik. WHO menekankan hal ini karena zat beracun bisa ikut terbawa ke janin melalui aliran darah ibu.
Air alkali punya pH lebih tinggi dari air biasa, umumnya 8–9. Kemenkes RI menetapkan pH air minum yang aman berada di rentang 6,5–8,5. Air alkali masih masuk kategori aman, tapi belum ada rekomendasi khusus yang menyebut pH tinggi lebih baik untuk ibu hamil.
Jadi, ibu hamil tidak perlu mengganti air putih dengan air alkali hanya karena menganggap pH lebih tinggi memberi manfaat ekstra. Fokus utama tetap pada air yang bersih, aman, dan jumlahnya cukup.
Konsensus Nasional POGI menyoroti pentingnya memenuhi kebutuhan cairan selama kehamilan. Jika mual dan muntah membuat asupan cairan sulit masuk, atau ada kondisi khusus yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kandungan.
Setiap kehamilan berbeda. Yang terpenting, dengarkan tubuh dan jaga asupan cairan harian — bukan hanya saat haus, tapi sepanjang hari.