MALUKU UTARA — Penyakit jantung perlahan tak lagi menyerang orang tua. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, 39 persen penderita penyakit jantung di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 44 tahun. Bahkan, 22 persen di antaranya berada di rentang usia 15 sampai 35 tahun.
Angka ini berbanding lurus dengan temuan studi terbaru bertajuk Future of Families, Cardiovascular Health Among Young Adults (FF-CHAYA). Riset yang melibatkan hampir 1.300 peserta dengan rata-rata usia 23 tahun ini menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Dari seluruh peserta, hanya 21 persen yang benar-benar bebas dari faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Para peneliti menggunakan pembaruan kriteria dari American Heart Association (AHA) tahun 2023 untuk mengukur kondisi kesehatan peserta. Kriteria ini memasukkan penyakit ginjal kronis sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular melalui konsep sindrom cardiovascular-kidney-metabolic (CKM).
Berikut rincian hasil pengukuran terhadap peserta studi:
Hasil USG arteri karotis juga menunjukkan adanya penebalan pembuluh darah di area leher pada sebagian peserta. Penebalan ini merupakan tanda awal aterosklerosis, kondisi penyempitan pembuluh darah yang bisa berujung pada penyakit jantung.
Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan, pergeseran usia penderita jantung berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup. Kebiasaan merokok sejak usia dini menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Selain itu, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak atau ultra-processed food semakin marak di kalangan anak muda. Kurangnya aktivitas fisik alias gaya hidup sedentary hingga tingginya angka obesitas makin memperparah kondisi ini.
Penyakit jantung sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas selama bertahun-tahun. Karena tanda awalnya sudah bisa terdeteksi di usia 20-an, pencegahan sedini mungkin menjadi kunci utama.
Kabar baiknya, risiko penyakit jantung bisa ditekan dengan mengubah kebiasaan harian. Beberapa langkah yang direkomendasikan para ahli antara lain:
Jangan menunggu gejala serius muncul untuk memeriksakan diri. Jika ibu atau pasangan punya riwayat keluarga dengan penyakit jantung, mengalami obesitas, atau memiliki kebiasaan merokok, pemeriksaan kesehatan rutin sejak usia 20-an sangat disarankan.
Deteksi dini melalui pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol bisa membantu mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Perubahan kecil yang dilakukan konsisten sekarang akan berdampak besar bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang. Mulai dari memilih makanan lebih sehat hingga menyisihkan waktu untuk bergerak aktif setiap hari.