MALUKU UTARA — Lebih dari separuh pasokan batu bara dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kalimantan Tengah, terhambat pada kuartal III 2026 akibat surutnya Sungai Barito sejak pertengahan Juni. Kondisi ini mengancam pemenuhan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) sejumlah perusahaan tambang yang telah disetujui pemerintah melalui RKAB 2026. Gangguan pengangkutan juga mulai memicu perusahaan merumahkan hingga memberhentikan karyawan.
Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Kalimantan Tengah, Handry Mardam, menyatakan surutnya Sungai Barito membuat banyak perusahaan di DAS Barito kesulitan mengirimkan batu bara melalui jalur sungai. Penyurutan mulai terjadi pada pertengahan Juni dan berlangsung hingga kini.
"Sungai Barito mulai surut pada pertengahan bulan Juni sampai saat ini, sehingga banyak perusahaan di DAS Barito terkendala pengiriman batu bara melalui jalur Sungai Barito," ujar Handry kepada TAMBANG, Kamis (24/9).
Gangguan pengiriman itu berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan DMO yang telah disetujui pemerintah melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Handry memperkirakan lebih dari separuh pasokan batu bara dari DAS Barito terganggu selama kuartal III 2026. Angka itu menjadikan Sungai Barito sebagai titik kritis distribusi batu bara Kalimantan Tengah.
"Jika dihitung, pasokan dari DAS Barito ini sekitar lebih dari 50% pasokan batu bara terganggu pada triwulan ketiga," ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada jalur transportasi alternatif untuk menggantikan pengiriman melalui Sungai Barito. Pemerintah masih terkendala bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penanganan asap di sejumlah wilayah.
"Untuk saat ini langkah pemerintah masih terkendala oleh bencana karhutla dan penanganan asap dari karhutla, sehingga dalam menyiapkan alternatif jalur transportasi pengangkutan batu bara belum ada sampai saat ini," jelas Handry.
Dampak surutnya sungai tidak berhenti pada pasokan. Sejumlah perusahaan yang terdampak terpaksa merumahkan hingga memberhentikan karyawan karena hasil produksi tidak dapat dijual.
Aktivitas penambangan sebenarnya masih bisa berjalan. Namun tanpa pengangkutan, batu bara tidak bisa keluar dan penjualan terhenti.
"Untuk yang terdampak malah merumahkan karyawan. Karena memang operasi penambangan bisa saja dilakukan, tapi penjualan tidak dapat berjalan," kata Handry.
Handry berharap kondisi kekeringan dan karhutla segera pulih agar pengangkutan dan penjualan batu bara kembali normal. "Mudahan kondisi ini cepat pulih dan industri pertambangan batu bara di Kalimantan kembali membaik," pungkasnya.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, menyatakan kekeringan sungai juga mengganggu pasokan batu bara untuk industri nonkelistrikan, termasuk sektor semen.
"Kalau yang semen, ada beberapa yang memang laporan terkait pasokan yang kurang. Beberapa sungai surut itu," kata Tri usai menghadiri Enlit Asia 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa (22/9/2026).
Ditjen Minerba tengah berupaya mencari sumber pasokan dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan industri semen. "Kami di Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved minggu ini atau minggu depan sudah clear," ujarnya.
Surutnya Sungai Barito menempatkan batu bara Kalimantan Tengah pada posisi rentan karena jalur sungai masih menjadi tulang punggung distribusi. Selama jalur alternatif belum tersedia dan karhutla belum tertangani, tekanan terhadap pasokan DMO maupun operasional perusahaan tambang diperkirakan berlanjut.