MALUKU UTARA — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dinilai masih memiliki ruang menambah produksi migas nasional melalui optimalisasi sumur tua di tengah cadangan yang semakin terbatas. Ahli ketahanan energi Universitas Indonesia, Ali Ahmudi Achyak, menilai pendekatan itu bisa berjalan beriringan dengan eksplorasi sumur baru. Langkah tersebut berpeluang memperpanjang masa operasi lapangan yang telah berproduksi puluhan tahun.
Ali Ahmudi Achyak menilai optimalisasi sumur tua bisa menjadi sumber produksi tambahan bagi PHE tanpa menghentikan eksplorasi sumur baru. Guru besar bidang ketahanan energi itu menyebut pengelolaan wilayah kerja yang sudah lama beroperasi tetap menyimpan peluang, terutama ketika cadangan baru kian sulit ditemukan.
Penguasaan teknologi dinilai menjadi faktor penentu agar lapangan tua tetap produktif. Ali menyoroti penerapan enhanced oil recovery (EOR) sebagai salah satu cara mengoptimalkan cadangan yang masih tersisa di sumur-sumur berusia lanjut.
"Kinerja PHE menunjukkan tren yang positif, didukung oleh penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE, baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen," ujar Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI itu.
Menurut Ali, kombinasi optimalisasi sumur tua, eksplorasi dan eksploitasi sumur baru, serta pemberdayaan sumur masyarakat dapat memperluas pilihan dalam menjaga keberlanjutan produksi migas.
Ali menekankan sisi keekonomian menjadi pertimbangan paling krusial. Teknologi lama yang dipakai pada sumur dengan produksi menurun dinilai tidak lagi ekonomis untuk dipertahankan.
"Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis," kata Ali.
Pemanfaatan teknologi yang lebih baru disebut dapat menekan sejumlah komponen biaya. Dengan begitu, pengelolaan sumur lama tetap punya peluang memberi nilai tambah meski volume produksinya tidak sebesar lapangan baru. Ali juga menyebut hasil produksi sumur masyarakat bisa dibeli Pertamina untuk masuk ke perhitungan lifting migas nasional.
"Hasilnya dijual juga ke Pertamina sehingga dijadikan sebagai lifting migas. Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apapun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi," ucap Ali.
Produktivitas lapangan tua terlihat pada operasi PHE Offshore Northwest Java (PHE ONWJ). Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyoroti kinerja lapangan itu setelah kunjungan kerja ke Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat, Ahad (4/10/2026).
Lapangan yang beroperasi sejak 1969 tersebut masih mampu menjaga produktivitas meski telah melalui proses peralihan pengelolaan. Kondisi itu menunjukkan sumur tua tetap dapat berkontribusi jika didukung teknologi, tata kelola, dan efisiensi operasi yang tepat.
Bagi PHE, optimalisasi sumur tua menjadi salah satu jalan mengejar target produksi di tengah keterbatasan cadangan. Pilihan ini tidak menggantikan eksplorasi, melainkan melengkapinya agar lapangan-lapangan sepuh tetap menghasilkan sebelum benar-benar ditinggalkan.