MALUKU UTARA — BYD Racco mulai dipasarkan ke luar Jepang lewat Macau dan Sri Lanka, membuka peluang kei car listrik itu masuk Indonesia yang sama-sama pakai setir kanan. BYD Indonesia mengaku masih mengolah hasil survei pasar, dengan respons awal yang disebut cukup positif. Belum ada keputusan waktu peluncuran, dan harga pun belum dibahas.
Pemesanan BYD Racco sudah dibuka di Macau, sementara peluncurannya di Sri Lanka berlangsung 9 Oktober silam. Dua pasar setir kanan itu jadi langkah pertama Racco keluar dari Jepang, tempat mobil ini semula dikembangkan khusus untuk kebutuhan domestik.
Head of PR & Government BYD Indonesia Luther Panjaitan menyatakan pihaknya belum menetapkan jadwal masuknya Racco ke Tanah Air. Kajian pasar masih berjalan, termasuk lewat survei langsung ke konsumen.
BYD Indonesia memakai survei langsung untuk mengukur ketertarikan masyarakat pada konsep kei car. Dari hasil awal, Luther menyebut tanggapan yang masuk cukup baik secara di atas kertas.
"Sementara ini kita masih olah dan analisa terus dari permintaan dan umpan balik yang ada," kata Luther kepada detikOto.
Ia menambahkan survei menyasar pertanyaan sederhana: apakah masyarakat tertarik pada tipe mobil sekecil kei car. Jawaban yang terkumpul jadi dasar analisis internal, bukan jaminan peluncuran.
"Secara di atas kertas cukup baik responnya. Dan banyak orang yang melihat bahwa ini bisa menjadi satu produk yang unggulan di Indonesia," ujarnya.
Indonesia menerapkan lalu lintas setir kanan seperti Jepang, Macau, dan Sri Lanka. Kesamaan ini memangkas kebutuhan rekayasa ulang untuk pasar lokal, sehingga secara teknis Racco lebih mudah dibawa masuk dibanding mobil yang dirancang untuk pasar setir kiri.
BYD Indonesia sendiri sudah beberapa kali memamerkan Racco lewat kanal media sosial resminya. Namun hingga kini belum ada keputusan soal waktu peluncuran.
Respons di negara lain yang lebih dulu memasarkan juga jadi pertimbangan. "Seperti ada di negara lain juga selain di Jepang, sudah mulai diperkenalkan. Artinya ada positif feedback dari market-nya," kata Luther.
Di Jepang, Racco mencatat 1.002 pesanan hanya dalam dua pekan setelah pemesanan dibuka. BYD menargetkan hingga 10 ribu pesanan sampai akhir 2026.
Angka itu jadi pembanding awal, meski pasar Jepang punya karakter berbeda: kei car di sana bukan produk niche, melainkan kategori mapan dengan pajak dan regulasi khusus. Di Indonesia, kategori serupa belum punya ekosistem yang setara.
Dimensi Racco tercatat panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.800 mm, dan wheelbase 2.520 mm. Mobil ini dapat mengangkut empat penumpang dengan kapasitas bagasi 280 liter.
Bodi setinggi 1.800 mm memberi ruang kepala lega khas kei car, tapi juga menaikkan pusat gravitasi. Untuk jalan dalam kota, kombinasi tenaga 63 hp dan torsi 160 Nm yang tersedia sejak putaran rendah biasanya terasa cukup responsif.
Angka jarak tempuh 210 km dan 320 km tergolong modest untuk standar EV Indonesia saat ini. Untuk pemakaian dalam kota harian, 210 km masih masuk akal; untuk perjalanan antarkota, versi 320 km lebih realistis.
Soal harga belum ada angka resmi sama sekali, baik untuk Jepang maupun rencana Indonesia. Tanpa patokan harga, sulit menilai apakah Racco akan bersaing di segmen entry-level EV atau justru menempati ceruk premium sebagai kendaraan kota kedua.
Faktor lain yang belum jelas: kesiapan jaringan servis untuk kendaraan berukuran ekstrem mungil, ketersediaan suku cadang, dan apakah Racco akan dirakit lokal atau diimpor utuh. Semua ini menentukan daya tariknya di pasar Indonesia, bukan cuma spesifikasi di atas kertas.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat bila hasilnya positif, bukan tidak mungkin kita bawa ke Indonesia sesegera mungkin," tutur Luther.
Jika nantinya dipasarkan, Racco akan menjadi mobil listrik BYD berukuran paling mungil di Indonesia. Peluangnya terbuka, tapi kepastiannya masih menunggu hasil kajian yang belum diumumkan kapan selesai.