HALMAHERA UTARA — Dua unit pembangkit listrik terapung nuklir FPU-100 akan dipasang untuk melayani konsumen di utara Pulau Halmahera. Masing-masing unit memakai sistem reaktor seri RITM, jenis yang sudah dipakai pada kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.
Rosatom menilai reaktor seri tersebut telah menunjukkan efisiensi, keandalan, dan keamanan selama bertahun-tahun pengoperasian. Pasokan listrik pertama diperkirakan mengalir paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik mulai berlaku.
Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir Yudi Utomo Imardjoko menegaskan proyek dirancang sepenuhnya melalui skema bisnis ke bisnis. Pembiayaannya mengandalkan investasi sektor swasta, tanpa pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
"Penyediaan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang," kata Yudi, dikutip Jumat (23/10).
Menurut Yudi, proyek menjadi bagian dari upaya mendukung transisi energi Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, khususnya di kawasan timur.
Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menyebut kesepakatan itu sebagai tonggak penting kerja sama energi Rusia dan Indonesia. Fokusnya mendukung ketahanan energi serta target netralitas karbon Indonesia.
Likhachev menyatakan Rosatom siap menawarkan teknologi nuklir yang telah teruji dan solusi teknologi mutakhir. Kerja sama tersebut, menurutnya, tidak berhenti pada pasokan listrik, tetapi menjadi landasan kemitraan jangka panjang kedua negara.
Ia juga menilai proyek menunjukkan peran sektor swasta dalam memprakarsai pembangunan infrastruktur nuklir dengan dukungan pemerintah.
Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir Haji Romo Nitiyudo Wachjo berharap kapasitas 200 MW itu mendukung kemandirian energi Indonesia. Pembangunan di Maluku Utara dan kawasan timur ikut didorong lewat proyek tersebut.
Romo menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom atas kerja sama itu. Ia juga mengapresiasi Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang dinilainya memberi kepercayaan untuk merealisasikan PLTN 200 MW di Halmahera Utara.
Bagi warga Halmahera Utara, kepastian pasokan listrik masih menunggu lima tahun ke depan. Yang bisa dipegang sekarang: kontrak sudah diteken, kapasitasnya 200 MW, dan pembiayaannya bukan dari APBN.