TERNATE — Kunjungan kerja Kementerian Kehutanan ke Ternate membawa oleh-oleh tersendiri bagi Wakil Menteri Rohmat Marzuki. Di sela peninjauan stan Usaha Perhutanan Sosial di Pulo Tareba, HKm KTH Tolire Gam Jaha, Gubernur Sherly Laos menyerahkan sebotol minyak cengkeh produksi warga Pulau Hiri.
Minyak cengkeh Hiri diolah tanpa campuran alkohol. Sherly menyebut produk itu hanya diproduksi dalam jumlah terbatas karena keterbatasan stok bahan baku.
Menurut Sherly, minyak cengkeh Hiri punya fungsi praktis bagi penggunanya. Ia menjelaskan produk itu bisa menghangatkan tubuh sekaligus bersifat antibakteri saat dioleskan.
"Pak Wamen nanti bawa pulang ini, minyak cengkeh dari Pulau Hiri. Tidak pakai alkohol. Mereka tidak punya stok banyak. Ini kalau dioles bisa menghangatkan, antibakteri," ujar Sherly.
Pulau Hiri dikenal sebagai salah satu sentra rempah di Maluku Utara. Cengkeh dari pulau kecil di sisi barat Ternate itu diolah warga menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar dijual dalam bentuk kering.
Selain minyak cengkeh, Sherly bersama Rohmat dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronika Tan meninjau produk olahan rempah lain di stan yang sama. Keduanya mencicipi manisan pala dan halua kenari.
Deretan produk itu memperlihatkan kemampuan warga mengolah kekayaan rempah daerah menjadi barang bernilai ekonomi. Bagi pelaku usaha perhutanan sosial, kesempatan diperkenalkan di hadapan pejabat pusat menjadi jalan tambahan untuk memperluas promosi.
Peninjauan stan berlangsung dalam kegiatan bertajuk "Merajut Kejayaan Rempah Indonesia melalui Perhutanan Sosial Inklusif" yang digelar Kementerian Kehutanan. Program itu menempatkan hasil usaha perhutanan sosial sebagai penggerak ekonomi masyarakat berbasis sumber daya alam.
Minyak cengkeh Hiri masuk dalam produk yang mendapat perhatian pada kegiatan tersebut. Pengenalan produk diharapkan membuka pasar lebih luas bagi rempah Maluku Utara dan menambah peluang usaha warga setempat.
Setelah pertemuan di Ternate, kelanjutan promosi produk bergantung pada tindak lanjut jajaran Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah. Pelaku usaha perhutanan sosial di Pulau Hiri menanti apakah produk mereka masuk jaringan pemasaran yang lebih besar.