TERNATE — Dukungan itu disampaikan Sherly Laos di hadapan pemangku adat dan warga yang memadati halaman kedaton. Menurut Gubernur, Festival Tara No Ate merupakan bagian warisan Kesultanan Ternate yang harus terus dijaga. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyatakan mendukung penuh keberlanjutan kegiatan tersebut, termasuk pelaksanaan MTQ Jaziratul Mulk.
"Kami sebagai Pemerintah Provinsi Maluku Utara mendukung sepenuhnya kegiatan Festival Tara No Ate dan MTQ untuk melestarikan budaya dan agama," ujar Sherly.
Warisan Kesultanan Ternate yang Dirawat Lintas Generasi
Bagi Sherly, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi. Ada jati diri dan kebijaksanaan warisan generasi terdahulu yang ikut dirawat di dalamnya. Nilai itu, katanya, yang hendak diteruskan kepada generasi berikutnya di Maluku Utara.
Penyelenggaraan festival dari tahun ke tahun dinilai menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan ini memberi dampak nyata pada aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Harapan Festival Berlangsung Lebih Lama, Dorong Ekonomi Warga
Sherly berharap Festival Tara No Ate dapat dikembangkan agar berlangsung lebih lama. Usulannya, kegiatan itu tidak berhenti pada momen festival saja. Dengan begitu, manfaat ekonominya bisa dirasakan warga secara berkelanjutan.
"Harapannya ke depan bisa berlangsung sebulan, maupun bisa berlangsung satu tahun, sehingga tidak hanya bergerak pada saat festival, tetapi kemudian menjadi sepanjang tahun," ungkapnya.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Kesultanan Ternate dan seluruh pemangku adat yang terus menjaga warisan budaya tersebut. Pelestarian tradisi berakar budaya kuat diharapkan menjadi bagian identitas sekaligus keunggulan Maluku Utara.