TERNATE — Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman menilai sejarah perdagangan rempah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bekal ekonomi yang bisa diolah kembali. Cengkih dan pala, menurutnya, bukan hanya komoditas dagang, tetapi bagian dari identitas, kebudayaan, dan peradaban masyarakat Ternate.
Pandangan itu disampaikan Tauhid di hadapan peserta Festival Salawaku Road to HAJAT ke-776 di Benteng Oranje. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Pangdam XV/Pattimura, Danrem, Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly, serta sejumlah pimpinan OPD.
Festival Salawaku dirangkaikan dengan peluncuran HAJAT ke-776 yang mengusung tema "Berakar pada Sejarah Rempah, Bergerak Menuju Masa Depan". Tema itu dipilih untuk menggambarkan perjalanan panjang Ternate sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia.
"Sejarah harus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk melangkah menuju masa depan. Kita harus mampu menerjemahkan warisan sejarah rempah menjadi peluang ekonomi baru melalui pengembangan sektor pariwisata, UMKM, industri kreatif, ekonomi digital, serta berbagai inovasi pembangunan lainnya," ujar Tauhid.
Ia menegaskan, HAJAT ke-776 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia daerah. Momentum itu dipakai untuk merefleksikan perjalanan sejarah sekaligus memperkuat identitas dan komitmen membangun Ternate.
Tauhid memetakan setidaknya empat sektor yang perlu digarap untuk menerjemahkan warisan rempah menjadi nilai ekonomi. Pariwisata, UMKM, industri kreatif, dan ekonomi digital disebut sebagai pintu masuk yang paling realistis.
Kebanggaan terhadap sejarah masa lalu, katanya, harus diikuti keberanian berinovasi dan meningkatkan daya saing. Pemanfaatan kemajuan teknologi juga dinilai perlu diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi kontribusi Bank Indonesia dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah. Dukungan itu mencakup penguatan UMKM, industri kreatif, digitalisasi sistem pembayaran, serta pengembangan sektor budaya dan pariwisata.
Ternate dinilai punya modal besar yang belum sepenuhnya tergarap. Tauhid menyebut sejarah Kesultanan Ternate, tradisi masyarakat, kuliner, rempah-rempah, hingga produk UMKM sebagai aset yang bisa dikembangkan.
Karena itu, pelaku UMKM, komunitas seni dan budaya, generasi muda, serta industri kreatif perlu mendapat ruang untuk berkembang dan berkolaborasi. Festival Salawaku 2026 sendiri mengangkat tema "Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya: Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif".
"Ketika budaya kita lestarikan, kreativitas kita kembangkan, dan ekonomi masyarakat kita kuatkan, maka Ternate akan memiliki fondasi pembangunan yang semakin kokoh dan berkelanjutan," tandasnya.
Tauhid berharap Festival Salawaku dan peluncuran HAJAT ke-776 memberi dampak nyata bagi pengembangan ekonomi kreatif. Peningkatan kapasitas UMKM, pelestarian budaya, dan kemajuan pariwisata Kota Ternate disebut sebagai tolok ukur keberhasilan rangkaian kegiatan tersebut.
Pelestarian budaya, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas dan penguatan ekonomi masyarakat. Ekosistem kreatif dinilai perlu melibatkan UMKM, komunitas seni, generasi muda, dunia usaha, lembaga keuangan, dan pemerintah secara bersamaan.