JAKARTA - Guncangan gempa yang dirasakan warga Kabupaten Kolaka Timur pada Jumat pagi menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tenggara masih berada dalam kawasan dengan aktivitas tektonik yang aktif.
Meski kekuatannya relatif kecil dan tidak menimbulkan kerusakan, peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gempa bumi dangkal yang dipicu oleh pergerakan sesar aktif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa gempa yang terjadi di Kolaka Timur merupakan gempa bumi tektonik dangkal. Analisis awal menunjukkan bahwa sumber gempa berasal dari aktivitas sesar aktif yang memang terdapat di wilayah tersebut.
Gempa Terjadi Pagi Hari di Wilayah Kolaka Timur
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BBMKG Wilayah IV, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa gempa bumi tersebut terjadi pada pukul 05.09 Wita. Peristiwa ini tercatat sebagai gempa bumi tektonik dengan kekuatan relatif kecil, namun sempat dirasakan oleh masyarakat setempat.
“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 2,8,” kata Nasrol Adil.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, gempa tersebut terjadi ketika sebagian besar masyarakat masih berada di dalam rumah. Kondisi ini menyebabkan getaran cukup terasa meskipun tidak berlangsung lama. Meski demikian, tidak ada laporan kepanikan berlebihan maupun gangguan aktivitas masyarakat akibat peristiwa tersebut.
Episenter Gempa Berada di Darat dengan Kedalaman Dangkal
BMKG mencatat episenter gempa berada pada koordinat 4,03 Lintang Selatan (LS) dan 121,76 Bujur Timur (BT). Lokasi tersebut tepatnya berada di daratan, sekitar 18 kilometer ke arah barat Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Gempa ini memiliki kedalaman hiposenter sekitar 3 kilometer. Kedalaman yang sangat dangkal inilah yang membuat getaran dapat dirasakan oleh masyarakat meskipun magnitudonya tidak besar.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat sesar aktif,” ujar Nasrol Adil.
Gempa dangkal umumnya memiliki potensi guncangan yang lebih terasa di permukaan dibandingkan gempa dengan kedalaman menengah atau dalam. Namun, dampak yang ditimbulkan sangat bergantung pada kekuatan gempa dan kondisi lingkungan sekitar.
Guncangan Terasa Nyata di Dalam Rumah
Berdasarkan estimasi peta guncangan atau shakemap BMKG serta laporan masyarakat, gempa ini menimbulkan guncangan di wilayah Kolaka Timur dengan skala intensitas III MMI. Skala ini menunjukkan bahwa getaran dirasakan cukup nyata oleh masyarakat yang berada di dalam rumah.
Nasrol Adil menjelaskan bahwa pada skala III MMI, getaran dapat dirasakan seperti adanya kendaraan berat yang melintas di sekitar bangunan.
“Getaran dirasakan nyata dalam rumah, serta terasa getaran seakan-akan ada truk yang berlalu,” jelasnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat gempa tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa gempa tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap infrastruktur dan aktivitas warga.
Tidak Ditemukan Gempa Susulan Hingga Pagi Hari
BMKG terus melakukan pemantauan pascagempa untuk memastikan tidak adanya aktivitas lanjutan yang berpotensi menimbulkan risiko tambahan. Hingga pukul 08.00 Wita, BMKG belum mencatat adanya gempa bumi susulan di wilayah Kolaka Timur dan sekitarnya.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,” kata Nasrol Adil.
Tidak terdeteksinya gempa susulan menjadi indikasi bahwa peristiwa tersebut bersifat tunggal dan tidak berkembang menjadi rangkaian gempa yang lebih besar. Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah terhadap potensi gempa bumi di wilayah rawan sesar aktif.
BMKG Imbau Masyarakat Selektif Terima Informasi
Dalam kesempatan tersebut, Nasrol Adil juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia menegaskan pentingnya mengakses informasi resmi dari BMKG atau kanal komunikasi yang telah terverifikasi.
Nasrol Adil menambahkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap karakteristik gempa bumi sangat penting untuk mengurangi risiko kepanikan. Informasi yang benar dan akurat dapat membantu masyarakat bersikap lebih bijak dalam menghadapi peristiwa gempa.
Selain itu, BMKG juga terus memperkuat sistem pemantauan dan diseminasi informasi kebencanaan agar masyarakat dapat memperoleh peringatan dan penjelasan secara cepat dan tepat.
Dengan adanya kejadian gempa di Kolaka Timur ini, masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang berada di jalur sesar aktif. Langkah sederhana seperti mengenali jalur evakuasi, memastikan kondisi bangunan aman, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dapat membantu meminimalkan risiko apabila terjadi gempa bumi di kemudian hari.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa gempa bumi dapat terjadi kapan saja, meskipun dengan skala kecil. Kesiapsiagaan dan literasi kebencanaan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika aktivitas tektonik di Indonesia.