MALUKU UTARA — Layar monitor perdagangan di Bursa Efek Indonesia bergerak liar sejak pagi. Sempat ada optimisme tinggi yang membawa indeks naik hingga satu persen, namun dalam sekejap warna merah mendominasi papan perdagangan. Kejatuhan ini menghapus seluruh keuntungan yang sempat dibukukan sejak pembukaan pasar.
Data perdagangan mencatat indeks parkir di level 6.249,26 pada akhir sesi. Tekanan jual yang masif membuat kapitalisasi pasar menciut signifikan menjadi Rp 11.079 triliun, setelah sempat dibuka melemah tipis 0,29 persen di posisi 6.352,20 pada pagi hari.
Sebelum pembalikan arah yang dramatis ini, pasar sempat diliputi optimisme tinggi. Jelang pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), indeks sempat melesat naik satu persen menuju level 6.430,97.
Saat momentum penguatan tersebut, sebanyak 382 saham bergerak menguat, sementara 260 saham turun dan 316 saham tidak bergerak. Transaksi saat itu sempat menembus Rp 4,83 triliun dengan volume perdagangan mencapai 7,92 miliar lembar saham. Namun, kegembiraan tersebut tidak bertahan lama.
Begitu arah pasar berbalik, aksi jual langsung meluas di berbagai sektor. Sebanyak 532 saham tercatat melemah, menyisakan hanya 167 saham yang mampu menguat, sementara 260 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi harian membengkak menjadi Rp 10,26 triliun dengan volume perdagangan 18,54 miliar lembar saham.
Beberapa saham yang paling aktif ditransaksikan oleh pelaku pasar di tengah volatilitas ini meliputi BBCA, ASPR, BBRI, BUMI, dan TPIA. Saham-saham ini menjadi pusat perhatian investor yang mencoba mengamankan posisi di tengah fluktuasi harga yang menyerupai roller coaster.
Kejatuhan indeks ini juga mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang mengantisipasi pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu siang ini (20/5/2026). Keputusan dari bank sentral tersebut menjadi agenda paling krusial yang dinanti oleh investor domestik maupun asing.
Pasar keuangan dalam negeri saat ini sedang berada di bawah tekanan berat, khususnya terhadap nilai tukar rupiah. Keputusan suku bunga acuan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar modal selanjutnya, apakah mampu meredam tekanan atau justru memperpanjang aksi jual.