Tai Tzu-ying: Gelar Doktor di Sela Jadwal Turnamen BWF, 17 Trofi dan Satu Toga

Penulis: Sutomo  •  Rabu, 27 Mei 2026 | 05:23:01 WIB
Tai Tzu-ying meraih gelar doktor sambil mempertahankan prestasi di turnamen bulutangkis internasional.

MALUKU UTARA — Kisah Tai Tzu-ying di bulutangkis sudah lama jadi legenda. Tapi yang bikin namanya makin istimewa adalah kenyataan bahwa ia mengejar gelar S3 di tengah hiruk-pikuk turnamen BWF. Perempuan asal Kaohsiung ini membuktikan bahwa atlet level elite dan akademisi bisa berjalan beriringan.

Dari Peringkat 1 Dunia hingga Emas Asian Games

Tai Tzu-ying pertama kali duduk di puncak peringkat BWF pada Desember 2016, usia 22 tahun. Sejak itu, koleksi gelarnya melesat: medali emas Asian Games 2018, perak Olimpiade Tokyo 2020, runner-up Kejuaraan Dunia 2021, dan tiga kali juara Asia (2017, 2018, 2023).

Total 17 gelar juara ia kumpulkan hingga Agustus 2025. Beberapa yang paling bergengsi: All England, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals. Tapi di luar trofi, ada satu pencapaian yang tak kalah mentereng: toga doktor.

Wisuda 9 Juni, Juara Indonesia Open Beberapa Hari Kemudian

Tai Tzu-ying meraih gelar doktor dari Taipei University jurusan ilmu keolahragaan pada 9 Juni 2022. Hanya berselang beberapa hari, ia terbang ke Jakarta dan memenangkan Indonesia Open di Istora Gelora Bung Karno. Dua momen besar dalam waktu berdekatan.

Ia mengakui membagi waktu antara latihan dan kuliah bukan perkara gampang. "Saya harus bicara langsung ke dosen untuk mengatur jadwal konsultasi di sela-sela latihan," kata Tai. Ia juga meminta perkuliahan dilakukan secara daring agar lebih efisien mengingat padatnya agenda turnamen.

Dukungan Kampus Jadi Kunci

Tai menegaskan bahwa dukungan penuh dari Taipei University menjadi faktor utama. Tanpa fleksibilitas dari pihak kampus, mustahil ia bisa menjalani studi S3 sambil tetap bertanding di level internasional. Di Taiwan, atlet yang mengambil program doktor sambil aktif berkompetisi masih sangat jarang.

"Gelar ini penting bagi saya," ujar Tai. Bukan sekadar formalitas, gelar doktor itu menjadi bukti bahwa atlet tidak harus memilih antara karier dan pendidikan. Keduanya bisa ditaklukkan bersamaan.

Warisan Ganda: Raket dan Toga

Tai Tzu-ying kini meninggalkan warisan ganda di dunia olahraga Taiwan. Sebagai pebulutangkis, ia punya rekor dan trofi yang sulit ditandingi. Sebagai akademisi, ia membuka jalan bagi atlet lain untuk mengejar pendidikan tinggi tanpa meninggalkan kompetisi.

Kisahnya mengingatkan bahwa di balik setiap smash keras dan reli panjang, ada perjuangan lain yang tak kalah berat: menyelesaikan disertasi di sela-sela jadwal latihan. Dan Tai Tzu-ying melakukannya dengan sempurna.

Reporter: Sutomo
Sumber: rctiplus.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top