TERNATE — Kepala PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Ternate, M. Lutfi Israr, menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sama sekali tidak memengaruhi harga tiket kapal penumpang. Sebab, seluruh armada angkutan PELNI menggunakan BBM subsidi jenis biosolar dari pemerintah.
"Justru dengan kenaikan harga BBM jenis Pertamax ini, ada kebijakan dari Kementerian Perhubungan yang diteruskan ke PT PELNI berupa diskon tiket sebesar 30 persen dalam momentum libur pendidikan," ujar Lutfi, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Lutfi, diskon pembelian tiket sudah bisa didapatkan sejak 6 Juni 2026. Namun, jadwal keberangkatan yang mendapatkan potongan harga baru berlaku mulai 20 Juni hingga 15 Agustus 2026.
"Jadi tiketnya sudah bisa dibeli sekarang, namun keberangkatannya baru berlaku dari tanggal 20 Juni sampai 15 Agustus 2026," katanya.
Diskon tersebut berlaku untuk tarif dasar dan sudah termasuk pass pelabuhan serta asuransi dari Jasa Raharja. "Yang melekat pada diskon tarif dasar itu ada pass pelabuhan dan Jasa Raharja. Jadi semua penumpang sudah dilindungi oleh asuransi. Sejak mereka membeli tiket, mereka sudah mendapatkan perlindungan," jelas Lutfi.
Lutfi menegaskan, potongan harga 30 persen hanya berlaku bagi penumpang kelas ekonomi. Prosesnya berjalan otomatis, baik melalui loket maupun kanal daring seperti Pelni Mobile.
"Itu otomatis. Jadi pada saat melakukan pembelian, akan terlihat harga yang berlaku dan langsung terlihat potongan harga 30 persen. Jadi tidak perlu dipilih lagi, karena sistem akan langsung menampilkan harga setelah diskon," ujarnya.
PT PELNI mengimbau calon penumpang membeli tiket melalui kanal resmi seperti Pelni Mobile, website resmi, Contact Center 162, dan bank-bank Himbara. Hal ini untuk menghindari praktik percaloan dan penipuan yang marak terjadi.
"Modus penjualan tiket biasanya melalui aplikasi TikTok, Facebook, atau meminta transfer ke nomor rekening pribadi. Itu berarti penipuan," ungkap Lutfi.
Ia juga memperingatkan agar penumpang tidak memaksakan diri membeli tiket jika kapasitas kapal sudah penuh. Sebab, oknum tertentu kerap mengklaim masih ada tiket padahal tidak terbaca saat proses pemindaian barcode ketika check-in. "Itu sangat merugikan calon penumpang," pungkasnya.