MALUKU UTARA — Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen eksternal yang masih membebani mata uang Garuda. Indeks dolar AS (DXY) bergerak menguat ke level 104,5 pada sesi Asia pagi ini, didorong oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun, kurs jual dolar AS di keempat bank tercatat seragam di angka Rp16.250. Sementara itu, kurs beli yang menjadi acuan bagi nasabah yang hendak menukarkan dolar ke rupiah juga bergerak mendekati level yang sama.
Selisih atau spread antara kurs jual dan beli di masing-masing bank berkisar antara Rp150 hingga Rp200. Angka ini tergolong normal untuk transaksi valas eceran di pasar domestik.
Pelaku pasar masih mencermati sikap hawkish bank sentral AS (The Fed) pasca rilis data ketenagakerjaan pekan lalu. Data non-farm payrolls (NFP) yang solid memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Di sisi domestik, pelaku pasar juga menunggu hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dijadwalkan hari ini. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun pagi ini naik 5 basis poin ke level 6,85%, menandakan adanya tekanan jual di pasar obligasi.
Analis menilai pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh data inflasi Indonesia yang dijadwalkan rilis pekan ini. Pasar memperkirakan inflasi Juni tetap berada dalam rentang target BI sebesar 2,5% plus minus 1%.