MALUKU UTARA — Kepastian ini disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Direktur AHM Thomas Wijaya saat peluncuran Vario generasi kesembilan, Rabu (24/6). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa seluruh produk motor Honda telah dirancang untuk bisa menggunakan campuran bensin dengan etanol hingga 10 persen.
Pernyataan Thomas sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di kalangan konsumen, terutama soal kesiapan mesin menghadapi kebijakan bahan bakar nabati ke depan. "Semuanya bisa, E5 sampai E10," ujar Thomas di sela-sela acara.
Artinya, pemilik Honda Beat, Revo, PCX, CBR, hingga model lawas produksi beberapa tahun terakhir tak perlu khawatir soal adaptasi mesin. AHM mengklaim sistem injeksi dan material komponen mesin sudah memenuhi standar ketahanan terhadap etanol.
Kesiapan AHM ini bertepatan dengan rencana pemerintah yang mulai serius mendorong penggunaan bioetanol. Kementerian ESDM menargetkan penerapan BBM bercampur etanol 5 persen (E5) berjalan sebelum Desember 2026, dengan Pulau Jawa sebagai lokasi uji coba perdana pada semester II tahun tersebut.
Tak berhenti di situ, level campuran direncanakan naik menjadi E10 pada awal 2027, lalu meningkat lagi ke E20 pada Januari 2028. Langkah ini merupakan bagian dari transisi energi nasional di sektor transportasi, menyusul mandatori biodiesel yang sudah lebih dulu berjalan.
Indonesia saat ini sudah menerapkan kewajiban pencampuran biodiesel 40 persen (B40) untuk mesin diesel, dan akan naik ke B50 mulai 1 Juli 2026. Namun untuk bensin, aturan pencampuran etanol belum resmi diundangkan. Baru pada tahun depan pengusaha SPBU swasta di Jawa akan diwajibkan menyediakan E5.
Dengan konfirmasi dari AHM, konsumen Honda setidaknya bisa lebih tenang. Mereka tak perlu melakukan modifikasi atau khawatir terhadap garansi mesin jika nantinya SPBU di daerahnya mulai menjual bensin E10. Langkah ini juga bisa menjadi sinyal bagi pabrikan lain untuk segera menyusul.