MALUKU UTARA — Fenomena langit berwarna oranye pekat hingga kemerahan di Kalimantan Tengah viral di media sosial X dengan lebih dari 4,4 juta penayangan. Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin menyebut warna langit tersebut muncul akibat hamburan cahaya oleh partikel asap karhutla, bukan pertanda bencana. Penjelasan ini menjawab kekhawatiran warganet yang mengira peristiwa tersebut adalah rekayasa digital.
Langit di sejumlah wilayah Kalimantan berwarna oranye kemerahan dan menjadi perbincangan luas di media sosial. Fenomena tersebut terjadi di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
Salah satu akun di platform X mengunggah rentetan video kondisi di sekitar rumahnya di Kalimantan Tengah. Dalam video itu, langit hingga suasana di sekitar rumah tampak berwarna oranye kemerahan.
"Demi Allah gue takut banget liat video ini, ini di Kalimantan Tengah siang tadi. Langitnya oranye kaya warna kulit jeruk. Beneran se-oranye itu," kata akun @rapun*** di X, Sabtu (19/9).
Pengunggah video membantah konten yang dibagikan merupakan hasil penyuntingan maupun rekayasa kecerdasan buatan (AI). Hingga Senin (21/9), video tersebut sudah dilihat lebih dari 4,4 juta kali di X, dengan sekitar 1.000 balasan.
Penjelasan Pakar BRIN
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa langit oranye kemerahan di Kalteng merupakan hal biasa ketika langit dipenuhi asap.
Menurut dia, cahaya Matahari sebenarnya campuran beragam warna yang tampak seperti pelangi, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
"Ketika langit dipenuhi asap, warna-warna dengan gelombang pendek (warna ungu, biru, sampai hijau) tidak bisa menembus asap. Jadi cahaya Matahari yang tersisa hanya warna kuning, jingga dan merah," kata Thomas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/9).
"Jadi, cahaya Matahari yang tersisa hanya warna kuning, jingga, dan merah. Itulah yang dilihat warga di wilayah terdampak asap karhutla," lanjut dia.
Apa Itu Mie Scattering
Thomas menyebut fenomena tersebut sebagai Mie Scattering atau hamburan mie. Ini adalah penghamburan cahaya oleh partikel di atmosfer yang ukurannya sebanding dengan panjang gelombang cahaya itu sendiri.
Peristiwa ini terjadi ketika cahaya Matahari menabrak partikel kecil seperti debu, butiran air dalam kabut, atau asap, dengan ukuran partikel yang mirip panjang gelombang cahaya.
"Mie Scattering adalah hamburan gelombang pendek yang biasanya tampak pada langit sore ketika warna birunya sudah dihamburkan di wilayah yang dilalui cahaya. Hamburan cahaya biru itu yang menyebabkan langit biru. Yang tersisa cahaya merah yang tampak di ufuk barat saat Matahari terbenam atau saat Matahari terbit," ujar Thomas.
Bukan Pertanda Bencana
Thomas memastikan fenomena langit oranye kemerahan bukan penanda bakal terjadi bencana. Warga tidak perlu khawatir dengan perubahan warna langit tersebut.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari warna langit, selain bahaya asapnya," papar dia.
Artinya, risiko utama bagi warga di wilayah terdampak justru berasal dari paparan asap karhutla, bukan dari warna langit itu sendiri. Kualitas udara dan gangguan pernapasan menjadi persoalan yang perlu diantisipasi di tengah musim kemarau dan kebakaran lahan yang masih berlangsung.