MALUKU UTARA — Berdasarkan data pasar yang diterima, penguatan di sesi pembukaan ini membawa rupiah ke posisi yang lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.922 per dolar AS. Sentimen positif di pasar uang pada awal pekan menjadi katalis utama pergerakan mata uang Garuda.
Kabar pemangkasan impor solar menjadi angin segar bagi neraca perdagangan Indonesia. Kebijakan ini diperkirakan mampu mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka menengah. Pelaku pasar masih menanti detail teknis terkait waktu dan mekanisme penghentian impor tersebut.
Sepanjang pekan sebelumnya, rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS. Pada perdagangan Kamis (25/6), rupiah melemah 15 poin atau 0,08 persen ke Rp17.967 per dolar AS. Sehari sebelumnya, Rabu (24/6), pelemahan lebih dalam terjadi yakni 0,40 persen ke Rp17.931 per dolar AS akibat kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed sepanjang 2026.
Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendorong rupiah ke Rp17.813 per dolar AS pada Senin (22/6). Sementara itu, pada perdagangan Selasa (23/6), rupiah dibuka melemah 16 poin ke level Rp17.859 per dolar AS.
Para pelaku pasar disarankan mencermati rilis data ekonomi terbaru serta arah kebijakan bank sentral AS. Sikap hawkish The Fed dan inflasi AS yang tinggi masih menjadi risiko utama bagi stabilitas rupiah. Investor perlu terus memantau dinamika pasar hingga penutupan perdagangan untuk menentukan langkah selanjutnya.