HALMAHERA BARAT — Warga di sejumlah kabupaten dan kota di Maluku Utara hingga Gorontalo merasakan guncangan keras saat gempa bumi Magnitudo 6,2 terjadi, Jumat (3/1). BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, 67 kilometer barat laut Halmahera Barat, dengan kedalaman 100 kilometer.
Berdasarkan laporan masyarakat, guncangan paling keras dirasakan di Halmahera Utara, mencapai skala intensitas III-IV MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan nyata oleh banyak orang di dalam rumah pada siang hari. Beberapa laporan menyebutkan gerabah pecah, jendela dan pintu berderik, serta dinding berbunyi.
Guncangan skala III MMI juga dirasakan di sejumlah daerah lain, meliputi Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Sanana, dan Morotai. Sementara itu, guncangan dengan skala lebih rendah, yaitu II-III MMI, dilaporkan terasa hingga ke Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango di Provinsi Gorontalo.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan jenis gempa ini. "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Laut Maluku," katanya dalam keterangan tertulis.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault). Meski guncangan terasa luas, BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. "Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi," demikian pernyataan resmi BMKG. Warga diminta memastikan informasi hanya bersumber dari kanal resmi BMKG.