MALUKU UTARA — Apple mengumumkan kesepakatan multi-tahun dengan Broadcom untuk pembelian komponen chip nirkabel senilai USD 30 miliar. Dalam siaran resmi, raksasa Cupertino itu menyebut kerja sama ini akan mencakup desain dan produksi chip khusus untuk berbagai lini produk Apple, mulai dari iPhone hingga perangkat wearable.
Sebagian dari dana tersebut—tepatnya USD 1,5 miliar—akan digunakan untuk membangun dan meningkatkan fasilitas Broadcom di Fort Collins, Colorado. Pabrik itu nantinya difokuskan memproduksi komponen frekuensi radio (RF) canggih.
Broadcom sendiri tidak memiliki pabrik fabrikasi sendiri. Proses produksi chip tetap dilakukan lewat mitra kontrak seperti TSMC. Namun, investasi ini memastikan seluruh rantai desain, rekayasa, dan final assembly chip tersebut berada di bawah kendali AS.
Dalam pernyataan resmi, Broadcom dan Apple hanya menyebut satu produk spesifik yang akan dipasok: FBAR Filters. Ini adalah teknologi Bulk Acoustic Wave filtering milik Broadcom yang berfungsi menyaring pita frekuensi nirkabel tertentu pada smartphone.
FBAR menjadi krusial di era 5G karena mampu memisahkan sinyal dari berbagai pita frekuensi yang rapat tanpa interferensi. Tanpa komponen ini, koneksi data di ponsel bisa mengalami gangguan atau drop signal.
Secara historis, Broadcom sudah lama menjadi pemasok chip Wi-Fi, Bluetooth, dan RF untuk perangkat Apple. Kesepakatan baru ini memperpanjang hubungan yang sudah berjalan lebih dari satu dekade.
Latar belakang kontrak ini tidak lepas dari tekanan politik. Tahun lalu, Apple menghadapi ancaman tarif impor kecuali perusahaan itu meningkatkan investasi di rantai pasok AS. Sebagai respons, Apple berkomitmen menggelontorkan hingga USD 600 miliar sepanjang masa jabatan kedua Presiden AS saat ini.
Kontrak dengan Broadcom sebesar USD 30 miliar menjadi komitmen tunggal terbesar dari janji tersebut. Analis memperkirakan akan ada lebih banyak kesepakatan serupa dalam tiga tahun ke depan untuk memenuhi target investasi tersebut.
Bagi pengguna di Indonesia, kesepakatan ini tidak berdampak langsung terhadap harga atau ketersediaan produk Apple. Namun, rantai pasok yang lebih stabil dan desain chip yang lebih terintegrasi berpotensi meningkatkan kualitas konektivitas perangkat Apple di masa depan.
Apple mengklaim kerja sama ini akan menghasilkan 15 miliar chip buatan AS. Angka itu menunjukkan skala produksi yang masif, yang pada akhirnya memastikan pasokan komponen tetap lancar untuk produk-produk yang dijual secara global, termasuk di pasar Indonesia.