MALUKU UTARA — Perombakan ini mengejutkan kalangan politisi Ukraina. Sejumlah anggota parlemen dan analis menyatakan kekhawatiran bahwa pergantian Menteri Pertahanan yang juga diumumkan dapat memengaruhi upaya militer Kyiv. Saat ini, tentara Ukraina tengah meningkatkan tekanan pada target energi Rusia dan berusaha membendung kemajuan pasukan Moskow di garis depan.
Berbicara kepada wartawan di Kyiv, Zelensky menyatakan prioritas utama saat ini adalah mempersiapkan diri menghadapi musim dingin. "Waktu ketika Rusia sering meningkatkan serangannya terhadap sistem energi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setelah melalui serangkaian konsultasi, Koretskyi adalah kandidat yang paling tepat untuk memimpin kabinet.
Zelensky belum memberikan alasan spesifik terkait perombakan ini. Ia hanya menyebut bahwa pembaruan kepemimpinan diperlukan untuk memenuhi tuntutan periode saat ini. Langkah ini diambil setelah Perdana Menteri sebelumnya, Yulia Svyrydenko, mengundurkan diri setelah menjabat sekitar satu tahun. Parlemen telah menyetujui pengunduran dirinya pada 14 Juli.
Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov mengkonfirmasi pengunduran dirinya melalui Facebook pada 15 Juli. Ia baru menjabat selama enam bulan. Dalam pesan perpisahannya, Fedorov menegaskan akan terus berkontribusi memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina melalui inovasi teknologi, pengerahan yang lebih cepat, dan reformasi organisasi.
Fedorov tidak mengungkapkan peran selanjutnya di pemerintahan. Namun, sumber-sumber di dalam partai yang berkuasa mengatakan kemungkinan besar ia akan tetap bekerja dalam tim Presiden Zelensky.
Sergii Koretskyi, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Naftogaz, kini akan menjadi kepala kabinet setelah disetujui parlemen. Naftogaz adalah perusahaan energi milik negara yang memegang peran krusial dalam ketahanan energi Ukraina. Penunjukan seorang teknokrat dari sektor energi menunjukkan fokus pemerintah pada keamanan pasokan listrik dan gas menghadapi musim dingin.
Keputusan ini juga mengirim sinyal bahwa Kyiv tengah mempersiapkan strategi pertahanan yang tidak hanya militer, tetapi juga ketahanan sipil. Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina pada musim dingin lalu telah menyebabkan pemadaman listrik massal dan krisis kemanusiaan.
Meskipun fokus pada energi jelas, pengamat menilai perombakan di puncak pemerintahan dan kementerian pertahanan berisiko mengganggu koordinasi di medan perang. "Penggantian Menteri Pertahanan di tengah perang adalah langkah yang sangat sensitif," ujar seorang analis politik Ukraina. "Ini bisa memperlambat pengambilan keputusan operasional jika tidak dikelola dengan hati-hati."
Parlemen Ukraina diperkirakan akan memberikan suara untuk menyetujui susunan pemerintahan baru pada 16 Juli. Semua mata kini tertuju pada bagaimana tim baru ini akan menyeimbangkan tekanan perang dengan kebutuhan domestik yang mendesak.