MALUKU UTARA — Indonesia masih menjadi negara endemis tifoid dengan prevalensi mencapai 1,6 persen dari populasi dan angka kejadian sekitar 148,7 per 100 ribu penduduk. Angka itu mendorong Bio Farma mempercepat produksi vaksin sendiri agar pasokan tidak lagi bergantung pada produk impor.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga. "Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan," ujarnya dalam seremoni peluncuran Bio-TCV di Jakarta.
Bio Farma mengembangkan vaksin ini bersama International Vaccine Institute (IVI). Kerja sama dimulai sejak 2010, diikuti transfer teknologi pada 2013. Di dalam negeri, uji klinis fase I, II, dan III dilakukan bersama akademisi dari FKUI-RSCM.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menegaskan bahwa Bio-TCV bukan sekadar produk baru. "Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi," katanya.
Vaksin tifoid konjugat ini tidak hanya diproyeksikan memenuhi kebutuhan nasional. Bio Farma menargetkan ekspansi ke negara-negara dengan beban penyakit tinggi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Langkah itu ditempuh melalui proses WHO Prequalification dan registrasi di berbagai negara.
Menurut Shadiq, pengembangan kapasitas produksi berbasis teknologi konjugasi menjadi kunci untuk memperkuat portofolio vaksin nasional di kancah global. Dengan begitu, akses masyarakat terhadap vaksin bisa meluas sekaligus memperkuat sistem kesehatan nasional.
Peluncuran Bio-TCV menjadi bukti bahwa industri farmasi BUMN mulai serius membangun kemandirian di sektor vaksin, setelah ketergantungan impor selama puluhan tahun menjadi celah kerentanan saat krisis kesehatan global.