Telkom Catat Pendapatan Segmen B2B Infrastructure Rp 33,1 Triliun, Data Center Jadi Motor Pertumbuhan Baru

Penulis: Fajar  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 13:07:32 WIB
Pendapatan segmen B2B Infrastructure Telkom tercatat Rp 33,1 triliun pada paruh pertama 2026, dengan data center menjadi motor pertumbuhan baru.

MALUKU UTARA — JAKARTA — Telkom tidak lagi hanya mengandalkan bisnis telekomunikasi tradisional. Pada paruh pertama 2026, pendapatan eksternal dari segmen infrastruktur digital mencapai Rp 4,7 triliun, naik 4,9 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan pergeseran strategi besar-besaran perusahaan pelat merah tersebut dari operator telekomunikasi konvensional menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi.

Bisnis Menara dan Data Center Tumbuh Beriringan

Di lini bisnis menara telekomunikasi, anak usaha Telkom, Mitratel, membukukan pendapatan Rp 4,7 triliun dengan pertumbuhan 2,1 persen. Jumlah penyewa menara kini mencapai 63.866 tenant, meningkat 4,9 persen, sehingga rasio penyewaan menara naik ke level 1,57 kali. Artinya, setiap satu menara rata-rata ditempati lebih dari satu operator, menandakan utilisasi aset yang semakin padat.

Permintaan infrastruktur digital memang sedang melonjak. Fenomena ini tidak lepas dari dinamika geopolitik global dan kebutuhan perusahaan teknologi besar dunia yang tengah membangun kapasitas komputasi untuk kecerdasan buatan (AI). Menyikapi hal ini, Telkom mempercepat konsolidasi seluruh aset data center TelkomGroup ke bawah satu naungan, NeutraDC. Langkah ini dirancang untuk memusatkan pengelolaan, memperluas jangkauan layanan, dan mengejar kolaborasi dengan mitra strategis global.

Segmen B2B ICT Bangkit, Bisnis Internasional Berbenah

Pada segmen B2B ICT, pendapatan tercatat Rp 7,3 triliun. Angka ini melonjak 35,7 persen dibanding kuartal sebelumnya, meskipun proses restrukturisasi portofolio dan streamlining masih berjalan. Peningkatan ini menunjukkan permintaan layanan teknologi informasi dari korporasi tetap solid di tengah transformasi internal.

Sementara itu, segmen bisnis internasional membukukan pendapatan Rp 5,7 triliun. Telkom tengah mengurangi ketergantungan pada bisnis voice hubbing tradisional yang marginnya tipis, dan beralih ke layanan konektivitas serta solusi digital bernilai tambah tinggi. Manajemen optimistis pergeseran portofolio ini akan mendongkrak margin EBITDA dalam beberapa tahun mendatang, seiring meningkatnya permintaan kapasitas kabel bawah laut internasional—terutama dari raksasa teknologi global yang membutuhkan jalur data cepat untuk pengembangan AI.

Transformasi Menuju Perusahaan Nilai

Strategi yang dijalankan pada paruh pertama 2026 ini merupakan bagian dari cetak biru transformasi jangka panjang Telkom. Perusahaan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kualitas pendapatan yang berasal dari bisnis bernilai tinggi. Dengan infrastruktur yang semakin padat terpakai dan portofolio yang bergeser ke layanan digital, Telkom memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia dan kawasan.

Ke depan, keberhasilan konsolidasi NeutraDC dan optimalisasi aset menara akan menjadi penentu utama apakah Telkom mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini hingga akhir tahun. Bagi pasar, sinyal ini cukup jelas: efisiensi dan monetisasi aset menjadi prioritas, bukan sekadar ekspansi besar-besaran.

Reporter: Fajar
Sumber: tekno.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top