MALUKU UTARA — Dua gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang wilayah Venezuela pada bulan Juni telah menimbulkan bencana kemanusiaan dengan skala yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Data terbaru dari otoritas setempat menunjukkan korban jiwa mencapai 6.125 orang, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah negara Amerika Selatan tersebut.
Ribuan warga lainnya masih berstatus hilang dan belum diketahui nasibnya. Tim penyelamat gabungan yang diterjunkan ke lokasi terdampak masih berupaya menjangkau area terpencil yang terputus aksesnya akibat longsor dan kerusakan infrastruktur jalan.
Guncangan pertama yang disusul gempa susulan dengan kekuatan hampir sama terjadi dalam rentang waktu kurang dari 24 jam. Kondisi ini menyebabkan bangunan yang sudah retak akibat guncangan pertama langsung runtuh total saat gempa kedua datang, memerangkap ribuan warga di dalamnya.
Kota-kota di pesisir utara Venezuela menjadi wilayah dengan kerusakan terparah. Rumah sakit, sekolah, dan permukiman padat penduduk dilaporkan rata dengan tanah. Otoritas setempat menyebutkan puluhan ribu warga kini mengungsi di tenda-tenda darurat karena tempat tinggal mereka tidak layak huni.
Proses evakuasi korban berjalan lambat di sejumlah titik karena alat berat yang terbatas. Tim penyelamat mengaku harus bekerja manual menggunakan peralatan sederhana untuk mengangkat puing-puing bangunan bertingkat yang runtuh.
Kebutuhan mendesak yang dilaporkan organisasi kemanusiaan meliputi air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, dan tenda pengungsian. Pasokan listrik dan komunikasi di wilayah terdampak masih belum pulih sepenuhnya, menyulitkan koordinasi distribusi bantuan ke daerah-daerah yang paling membutuhkan.
Pemerintah Venezuela telah mengumumkan status darurat nasional dan mengerahkan personel militer untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan. Kantor koordinasi urusan kemanusiaan PBB menyatakan telah menerima permintaan resmi dari pemerintah Venezuela untuk dukungan teknis dan logistik internasional.
Beberapa negara tetangga dan organisasi non-pemerintah internasional mulai mengirimkan tim penilai kebutuhan serta bantuan medis darurat. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah membuka akses logistik ke daerah-daerah terisolasi agar bantuan dapat segera menjangkau para penyintas yang masih menunggu di lokasi pengungsian sementara.
Jumlah korban yang terus bertambah setiap harinya membuat proses identifikasi jenazah menjadi pekerjaan berat bagi tim forensik. Pemerintah setempat menyediakan layanan informasi bagi keluarga yang mencari kerabat mereka yang hilang melalui posko-posko yang didirikan di setiap kecamatan terdampak bencana.