HALMAHERA — Perjalanan panjang melintasi benua Prof. Bill Carter berakhir dengan keharuan di tengah rimbunnya hutan tropis Maluku Utara. Di bawah kanopi Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, akademisi yang kerap mengajar mahasiswa pariwisata Indonesia di Australia ini berdiri terpaku menyaksikan gerakan lincah dan tarian bulu memesona dari Burung Bidadari Halmahera.
Bagi Prof. Bill, momen ini bukan sekadar ekspedisi ilmiah biasa. Ini adalah pelunasan atas rasa penasaran yang telah ia pendam selama puluhan tahun, sebuah obsesi yang berakar dari buku legendaris The Malay Archipelago karya naturalis dunia, Alfred Russel Wallace.
Ketertarikan Prof. Bill pada Burung Bidadari Halmahera bermula dari literatur sejarah yang ditulis Wallace. Dari buku itulah ia pertama kali mengenal konsep Garis Wallace (Wallace Line) dan cerita keterpukauan naturalis tersebut terhadap satwa endemik yang dijuluki salah satu burung tercantik di muka bumi ini.
"Hari ini, penantian panjang itu lunas. Kami bisa menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri burung yang ratusan tahun lalu sangat dipuji oleh Wallace," ujar Prof. Bill di sela-sela kunjungannya dengan nada penuh haru.
Kehadiran Prof. Bill tidak sendiri. Ia memboyong seorang rekannya yang juga konservasionis alam internasional. Keduanya menempuh perjalanan jauh demi membuktikan keajaiban alam yang selama ini hanya mereka baca dari lembaran sejarah.
Keberhasilan ekspedisi berskala internasional ini tak lepas dari pendampingan profesional tim lokal. Perjalanan Prof. Bill dan rekannya dikawal langsung oleh Azis Momanda, pemandu wisata dari Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara yang juga menjabat sebagai pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Maluku Utara, serta Tim Pemandu dari Balai Taman Nasional.
Kolaborasi apik antara Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku Utara, Kantor Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, dan HPI Malut ini memastikan seluruh rangkaian penjelajahan berjalan aman tanpa sedikit pun mengusik ekosistem asli satwa yang dilindungi tersebut.
Momen langka saat menyaksikan Burung Bidadari menari bebas di balik rimbunnya Hutan Halmahera menjadi pembuktian krusial bagi kedua pakar lingkungan tersebut. Hal ini menegaskan betapa pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan tropis Maluku Utara.
Langkah mantap Prof. Bill Carter di bumi Halmahera kini menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Utara tak sekadar siap menyambut pariwisata berbasis lingkungan (eco-tourism) berskala global. Kehadiran peneliti internasional ini juga makin memperkokoh posisi provinsi tersebut sebagai destinasi premium bagi para peneliti dan pencinta alam dari seluruh penjuru dunia.