Pencarian

Perang Dingin di Gedung Putih: Kubu Pro-Regulasi AI Bentrok dengan Tim Sacks Usai Trump Batalkan Eksekutif Order

Selasa, 02 Juni 2026 • 17:42:01 WIB
Perang Dingin di Gedung Putih: Kubu Pro-Regulasi AI Bentrok dengan Tim Sacks Usai Trump Batalkan Eksekutif Order
Presiden Trump membatalkan perintah eksekutif regulasi AI beberapa jam sebelum penandatanganan.

Pembatalan mendadak itu terjadi hanya beberapa jam sebelum upacara penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung. Trump saat itu beralasan regulasi akan menghambat inovasi dan melemahkan posisi AS dalam perlombaan AI melawan China. Namun, keputusan presiden justru memicu perang opini di dalam lingkar dalam kekuasaannya sendiri.

Konten Paling Kontroversial: Akses Dini Model AI ke Gedung Putih

Bagian paling sensitif dari rancangan perintah yang dibatalkan adalah ketentuan tentang kerangka kerja sukarela. Aturan ini meminta laboratorium AI besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Google untuk memberikan akses awal model AI mereka kepada Gedung Putih—hingga 90 hari sebelum rilis publik—guna mengevaluasi kemampuan keamanan siber.

Alasan di balik dorongan regulasi ini adalah pengakuan bahwa AI telah menjadi masalah keamanan nasional. Model-model canggih seperti Mythos milik Anthropic dan GPT-5.5 milik OpenAI dinilai sangat mahir menemukan celah keamanan di sistem perangkat lunak lawas. Namun, beberapa eksekutif AI mengaku kepada WIRED bahwa perusahaan mereka belum siap menyerahkan model sedini itu.

Kubu Wiles vs Kubu Sacks: Pertarungan Dua Tokoh Kunci

Di satu sisi, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles memimpin koalisi yang ingin menghidupkan kembali perintah eksekutif tersebut. Ia didukung oleh Menteri Keuangan Scott Bessent dan Direktur Keamanan Siber Nasional Sean Cairncross. Bessent bahkan telah bertemu langsung dengan CEO Anthropic, Dario Amodei, dan eksekutif AI lainnya untuk mencari jalan tengah.

Di sisi lain, mantan 'Czar AI' Trump, David Sacks, menjadi penentang paling vokal. Sacks diyakini menjadi dalang di balik pembatalan menit-menit terakhir dengan meyakinkan Trump bahwa aturan itu terlalu memberatkan. Dalam cuitannya di X, Sacks menulis, "Presiden Trump paham bahwa regulasi yang tidak perlu adalah ancaman terbesar bagi inovasi di Amerika.”

Penghalang Terbesar: Sikap Trump yang Masih Abu-Abu

Para pembantu presiden mengakui bahwa pertikaian internal ini hanya akan berarti jika Trump sendiri akhirnya setuju. "Menyelesaikan pertikaian internal hanya penting jika itu membuat Trump berkata 'ya'," ujar seorang pejabat administrasi yang enggan disebut namanya. Juru bicara Gedung Putih, Liz Huston, menyatakan tim presiden bersatu dalam menjalankan agenda Trump dan menjaga keseimbangan antara inovasi dan regulasi.

Menteri Perdagangan dan Pentagon Pilih Ambil Jarak

Situasi semakin rumit karena beberapa pejabat kunci justru menjauh dari proses ini. Menteri Perdagangan Howard Lutnick, misalnya, memainkan peran minimal karena ia sudah memiliki akses awal ke model AI terbaru melalui program internal bernama Center for AI Standards and Innovation. Program ini menjadi jalur utama pengujian model AI bagi pemerintah tanpa perlu persetujuan formal.

Di Pentagon, Wakil Menteri Emil Michael—mantan eksekutif Uber—lebih fokus memastikan departemen pertahanan mendapatkan akses awal ke model-model AI terdepan. Seorang pejabat senior menekankan bahwa dinamika internal masih sangat cair. "Kami kembali ke papan gambar, semuanya masih bisa diperebutkan," katanya.

Bagikan
Sumber: wired.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks