TERNATE — Bambu bukan sekadar tanaman di Kelurahan Tongole. Bagi warga setempat, bambu adalah identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Kini, warisan itu coba diangkat menjadi produk ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
BPK Maluku Utara menggandeng akademisi dan pemerintah kota dalam workshop dua hari itu. Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain akademisi ISDIK Taufik H. Taher, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate Rinto Taib, serta akademisi Universitas Khairun Muktar Adam.
Bambu sebagai Jati Diri yang Butuh Perlindungan Hukum
Inisiator program, Rasno Ahmad, menegaskan bahwa bambu adalah bagian dari jati diri masyarakat Tongole. Ia mendorong pemerintah kelurahan hingga kecamatan untuk serius melestarikan potensi ini.
"Bambu adalah jati diri yang harus dirawat dan dilestarikan. Tongole sebagai kampung bambu ke depan perlu mendapatkan perlindungan hukum melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar tidak diklaim oleh daerah lain. Ini menjadi perhatian bersama," ujar Rasno dalam sambutannya.
Prospek Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Kepala Subbagian Umum BPK Maluku Utara, Stenli R. Loupatty, menilai kerajinan kursi bambu memiliki prospek besar. Ia berharap workshop ini menjadi titik awal lahirnya inovasi dan keterlibatan generasi muda.
"Melalui kegiatan ini kami berharap para perajin mulai memanfaatkan pasar digital sehingga produk kursi bambu dapat dipasarkan hingga ke luar daerah. Dengan begitu, kerajinan bambu dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan," kata Stenli.
Transformasi dari Warisan ke Produk Kreatif
Workshop bertema "Transformasi Bambu sebagai Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi dan Berkelanjutan" ini tidak hanya mengajarkan teknik pembuatan kursi. Peserta juga diajak memahami bagaimana nilai budaya bisa menambah daya jual produk.
Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Kebudayaan turut mendukung langkah ini. Sekretaris Dinas Kebudayaan Rinto Taib yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengangkat potensi lokal.
Ke depan, BPK Maluku Utara menargetkan Tongole tidak hanya dikenal sebagai kampung bambu, tetapi juga sebagai pusat produksi kerajinan bambu yang mampu bersaing di pasar regional. Digitalisasi pemasaran menjadi kunci agar produk perajin lokal tembus pasar yang lebih luas.