TERNATE — Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengimbau warga Maluku Utara untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah sembarangan serta segera melaporkan indikasi titik api. Imbauan ini dikeluarkan menyusul hasil pemantauan yang menunjukkan indeks El Nino berada pada level kuat, yang berpotensi menghambat pembentukan awan hujan dan memperpanjang musim kemarau.
Angin Kencang Ancam Wilayah Pesisir dan Laut Maluku
BMKG mencatat kecepatan angin permukaan di sejumlah wilayah telah meningkat hingga lebih dari 20 knot. Kondisi ini berpotensi memicu pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di wilayah pesisir.
“Peningkatan kecepatan angin permukaan masih berpotensi terjadi. Kondisi itu diprakirakan berlangsung di Laut Maluku, Laut Seram, dan Laut Halmahera,” kata Dr. Andri Ramdhani, M.Si dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG dalam rilis resminya. Masyarakat diminta menghindari pohon, baliho, dan bangunan rapuh saat terjadi angin kencang.
Siklon Tropis Noul Picu Hujan di Wilayah Tetangga
Meski dominasi musim kemarau meluas, BMKG mengidentifikasi adanya Siklon Tropis Noul di Laut Filipina, tepatnya di sebelah utara Maluku Utara. Siklon ini memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan suplai uap air dan pertumbuhan awan hujan, terutama di Kalimantan Utara.
Selain itu, aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial turut mempengaruhi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Namun, untuk wilayah Maluku Utara sendiri, potensi hujan diperkirakan tetap rendah dalam sepekan ke depan.
Indeks El Nino Capai Level Kuat, Warga Diimbau Hemat Air
Indeks Niño 3.4 tercatat sebesar +2,26 dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2. Angka ini mengindikasikan El Nino dalam intensitas kuat dan berpotensi semakin menguat pada tahun ini. Akibatnya, proses pembentukan awan hujan terhambat dan kecenderungan penurunan curah hujan semakin kuat.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air. Langkah mitigasi seperti tidak membakar lahan dan segera melaporkan titik api menjadi krusial untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi kering yang ekstrem.