JAILOLO — Benturan keras terjadi di kolam Pelabuhan Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, saat KM Permata Obi hendak bersandar pada Senin pagi. Kapal berbobot 1.216 GT tersebut terdorong arus dan angin kencang hingga menghantam buritan KM Queen Mary yang tengah bersandar di dermaga.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Jailolo, Rosihan Gamtjim, melaporkan kejadian itu berlangsung sekitar pukul 08.30 WIT, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Tidak ada korban jiwa maupun tumpahan bahan bakar dalam insiden ini.
KM Queen Mary Hanyut ke Utara Dermaga
Dampak hantaman membuat seluruh tali tambat KM Queen Mary putus. Kapal berbobot 395 GT itu kemudian hanyut ke arah utara dermaga sebelum akhirnya berhasil dikendalikan kembali oleh awak kapal.
KM Permata Obi yang baru tiba dari Manado dan hendak menuju Ternate mengalami lecet serta goresan pada bagian haluan. Sementara itu, KM Queen Mary menanggung kerusakan lebih berat: pagar geladak kedua penyok, kebocoran pada buritan, dan seluruh tali tambat rusak.
Fasilitas Pelabuhan dan Motor Warga Ikut Terdampak
Insiden ini tidak hanya merusak dua kapal. Satu unit rubber fender atau pelindung dermaga rusak parah, dan enam sepeda motor yang terparkir di sekitar area dermaga dilaporkan mengalami kerusakan ringan.
Rosihan menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pengingat bagi para nakhoda untuk menghitung risiko faktor alam sebelum bermanuver di kawasan pelabuhan. "Insiden ini kembali mengingatkan kepada nakhoda kapal agar selalu waspada dan memperhitungkan tingginya risiko keselamatan pelayaran yang disebabkan oleh faktor alam berupa angin dan gelombang di perairan Maluku Utara yang sering berubah," ungkapnya.
KM Permata Obi Dinyatakan Layak Berlayar
Hasil pemeriksaan keselamatan terhadap KM Permata Obi menyatakan kapal masih layak berlayar. Kapal tersebut kemudian diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Ternate pada pukul 13.25 WIT.
Berbeda dengan KM Permata Obi, KM Queen Mary harus menjalani perbaikan darurat terlebih dahulu akibat kerusakan pada bagian buritan. Kapal tersebut dijadwalkan menuju Bitung untuk menjalani docking tahunan.
Kesepakatan damai antara kedua manajemen kapal dan pengelola pelabuhan diharapkan menjadi jalan keluar tanpa mengganggu pelayanan transportasi laut kepada masyarakat. Seluruh proses penyelesaian kerugian akan dilakukan melalui musyawarah.