MALUKU UTARA — Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sempat bergerak di rentang 6.393 hingga 6.414 pada menit-menit awal sesi pertama. Tekanan jual terlihat cukup merata di seluruh sektor, mencerminkan sentiment risk-off yang masih menyelimuti pasar modal domestik.
Pada awal sesi, sebanyak 1,07 miliar saham telah berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 397,03 miliar. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 82.092 kali, menunjukkan likuiditas yang masih cukup aktif meski indeks berada di zona negatif.
Mayoritas Saham Tertekan, 233 Lainnya Stagnan
Data internal BEI menunjukkan hanya 178 saham yang berhasil menguat pada perdagangan pagi ini. Sementara itu, 217 saham lainnya mengalami pelemahan dan 233 saham tercatat tidak bergerak dari harga sebelumnya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi besar, tetapi juga merambah ke saham lapis kedua dan ketiga. Investor cenderung memilih untuk mengurangi eksposur risiko di tengah ketidakpastian pergerakan indeks.
Level 6.400 Jadi Titik Krusial Pergerakan IHSG
Area 6.393 yang sempat disentuh indeks pada pembukaan menjadi level terendah sementara. Para pelaku pasar kini mencermati apakah support psikologis di kisaran 6.400 mampu bertahan hingga akhir sesi perdagangan.
Jika tekanan jual berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji level support berikutnya. Sebaliknya, aksi bargain hunting dapat muncul jika indeks menunjukkan tanda-tanda stabilisasi di area tersebut.
Investor asing pun menjadi perhatian utama dalam sesi ini. Data net buy atau net sell asing pada menit-menit awal perdagangan akan menjadi indikator awal arah pergerakan indeks selanjutnya.
Pelemahan IHSG pagi ini sejalan dengan pergerakan bursa kawasan Asia yang mayoritas berada di zona merah. Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi perilaku investor di pasar modal Indonesia.
Investasi mengandung risiko.