Pencarian

Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Kota Pusaka, Sejarah Tak Cukup Hanya Dijaga Bangunannya

Kamis, 27 Agustus 2026 • 10:42:02 WIB
Rakernas JKPI di Ternate Jadi Momentum Hidupkan Kota Pusaka, Sejarah Tak Cukup Hanya Dijaga Bangunannya
Rakernas JKPI di Ternate digelar untuk menghidupkan kembali kawasan kota pusaka melalui pendekatan pelestarian yang berkelanjutan.

TERNATE — Kota Ternate sedang menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan: membangun wajah kota modern tanpa kehilangan jiwanya. Di tengah gempuran beton dan aspal, situs-situs pusaka seperti Benteng Oranje, Kastela, hingga Kota Janji masih berdiri sebagai saksi bisu kejayaan perdagangan rempah dunia. Namun, keberadaannya kini diuji oleh laju pembangunan yang kerap mengabaikan identitas lokal.

Rakernas JKPI yang digelar di kota ini diharapkan menjadi titik balik. Pertemuan antar daerah itu bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan pengakuan bahwa Ternate menyimpan warisan sejarah kelas dunia yang menghubungkan Nusantara dengan bangsa-bangsa Eropa berabad-abad lalu.

Mengapa Benteng Tua Harus Jadi Ruang Kreatif Anak Muda?

Keberadaan benteng-benteng peninggalan kolonial dan Kesultanan Ternate selama ini lebih banyak berfungsi sebagai objek wisata yang dikunjungi sesekali. Padahal, kawasan cagar budaya tersebut menyimpan potensi besar untuk dijadikan ruang diskusi, pusat kesenian, hingga lokasi pertunjukan seni kontemporer.

Jika dirawat dengan pendekatan yang tepat, kawasan pusaka bisa menjadi ruang hidup bagi warga. Kegiatan ekonomi kreatif berbasis sejarah pun bisa tumbuh di sana, memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar tanpa harus merusak nilai historis bangunan.

Pembangunan Fisik vs Identitas Lokal: Dua Kutub yang Harus Dipertemukan

Persoalan klasik yang dihadapi hampir semua kota pusaka di Indonesia adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur dengan pelestarian sejarah. Tata ruang kota sering kali disusun tanpa mempertimbangkan keterkaitan kawasan dengan Kesultanan Ternate atau ekosistem Lereng Gunung Gamalama.

Modernisasi tidak boleh seragam. Jika semua kota dibangun dengan pola yang sama—gedung tinggi, pusat perbelanjaan, dan jalan lebar—maka Ternate akan kehilangan daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain. Karakter pesisir dan sejarah bahari harus menjadi dasar perencanaan kota ke depan.

Sejarah yang Mati: Ketika Narasi Masa Lalu Tak Diterjemahkan ke Bahasa Generasi Kini

Persoalan paling mendesak bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan bagaimana menceritakan kembali kisah para Sultan, pelaut, dan diplomasi rempah kepada generasi muda. Narasi sejarah yang hanya tersimpan di museum atau arsip akan semakin ditinggalkan.

Dibutuhkan terjemahan baru dalam bentuk film, musik, fotografi, desain, hingga konten digital. Anak muda harus diberi ruang untuk menginterpretasikan sejarah dengan medium yang mereka kuasai, sehingga ingatan kolektif tentang kejayaan Ternate tidak berhenti di generasi tua.

Modal Besar Ternate di Mata Indonesia dan Dunia

Jejak peradaban di kota ini bukan hanya milik Maluku Utara. Ternate adalah bagian penting dari sejarah Indonesia dan dunia, terutama dalam konteks jalur rempah yang pernah menjadi komoditas paling berharga di Eropa. Warisan ini merupakan aset diplomasi budaya yang tidak dimiliki banyak kota lain.

Kota yang besar bukan diukur dari tingginya gedung, melainkan kuatnya ingatan kolektif dan kokohnya identitas. Jika sejarah dijadikan kompas dalam setiap kebijakan tata ruang dan pembangunan, Ternate akan mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar infrastruktur fisik kepada generasi penerus.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: halmaherapost.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks