Pencarian

Suaibad Karto Ambar, Perempuan Pertama dari Ternate yang Masuk PNI, Tak Pernah Berpaling dari Ideologi Soekarno

Senin, 31 Agustus 2026 • 13:17:01 WIB
Suaibad Karto Ambar, Perempuan Pertama dari Ternate yang Masuk PNI, Tak Pernah Berpaling dari Ideologi Soekarno
Suaibad Karto Ambar, perempuan pertama dari Ternate yang bergabung dengan PNI, berpose dalam sebuah potret kenangan bersama keluarganya di Santiong, Ternate.

TERNATE — Namanya mungkin tak setenar tokoh pergerakan lainnya, tetapi jejak Suaibad Karto Ambar dalam sejarah kemerdekaan di Maluku Utara tak bisa diabaikan. Perempuan yang akrab disapa Sueba Ambar ini adalah putri bungsu dari pasangan Abdullah Karto dan Maryam Samsu, yang keluarganya berasal dari Jogjakarta dan menetap di bilangan Santiong, Ternate.

Namanya terabadikan dalam buku "Kepulauan Rempah-rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950" karya Adnan Amal. Sejarawan itu sempat mewawancarai langsung Suaibad di rumahnya. Dari situlah diketahui kisah bagaimana ia berdiri di barisan terdepan ketika PNI mulai menyebarkan pengaruhnya di Ternate.

Awal Mula PNI Masuk ke Ternate

PNI lahir dari klub belajar "Algemeene Studie Club" yang digagas Soekarno bersama Ali Sostroamidjojo, Soenarjo, dan Sartono di Bandung. Pada 4 Juli 1927, mereka sepakat membentuk Perserikatan Nasional Indonesia yang kemudian berubah nama menjadi Partai Nasionalis Indonesia setelah kongres pertama di Surabaya, 27-30 Mei 1928.

Dua tahun setelah partai berdiri, pada 1929, tiga propagandis PNI tiba di Ternate. Sambutan warga, terutama dari kalangan anak muda, sangat antusias. Suaibad menjadi perempuan pertama yang bergabung. Ketertarikannya pada partai itu lahir dari kekaguman mendalam terhadap sosok dan gagasan Soekarno, yang asas perjuangannya berfokus pada pengentasan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat tertindas—prinsip yang kemudian dikenal sebagai marhaenisme.

Tekanan Belanda dan Aktivis yang Tak Pernah Padam

Kedatangan PNI di Ternate langsung memicu kewaspadaan pemerintah kolonial Belanda. Sebelumnya, Belanda telah membubarkan paksa organisasi Budi Mulia. Tujuan PNI yang terang-terangan memperjuangkan "Indonesia Merdeka" dianggap sebagai ancaman serius.

Meski tiga propagandis itu tidak bertahan lama di Ternate karena situasi yang tak kondusif, pengaruhnya berhasil menular ke banyak aktivis muda seperti Sabtu Mataoga, Hasan Esa, dan Ahmad Bian. Pergerakan terus berlanjut dengan fokus bergeser ke bidang pendidikan. Banyak sekolah rakyat didirikan, organisasi kepanduan lahir, dan muncul berbagai organisasi lokal seperti Annaser pimpinan Ahmad Syechan Bahmid, Persatuan Tionghoa Islam, Persatuan Pemuda Islam, dan Persatuan Pedagang Arab Indonesia.

Di tingkat nasional, respons Belanda terhadap PNI sangat keras. Desember 1929, Soekarno ditangkap bersama sejumlah tokoh partai. Dalam persidangan yang berlangsung nyaris setahun, ia membacakan pleidoi berjudul "Indonesia Menggugat" pada 30 September 1930. Sebulan kemudian, Soekarno dinyatakan bersalah, ditahan di penjara Sukamiskin, dan PNI dibubarkan.

Teguh Memegang Prinsip, Berani Beda dari Arus Zaman

Kisah keteguhan Suaibad terekam dalam sebuah percakapan yang diceritakan sang cucu, Rita Ambar. Suatu ketika, Ibu Mega bertanya, "Sejak kapan ibu jadi anggota PNI?"

"Ibu pulang tanya ke bapak sejak kapan PNI ada—sejak itu saya bergabung," jawab Ibu Eba, panggilan akrab untuk Suaibad di usia senjanya.

Jawaban itu menegaskan bahwa keanggotaannya bukan sekadar ikut-ikutan. Sejak era kolonial, melewati pergolakan kemerdekaan, hingga Orde Baru memerintah dengan berbagai paksaan untuk beralih secara politis, Suaibad tetap "merah". Perempuan yang hidup melewati tiga zaman ini menjadi saksi hidup bagaimana ideologi yang diyakini sejak muda dipertahankan sampai akhir hayatnya.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks