Pencarian

Tim PKM FEB Unkhair Edukasi 20 Petani Kelapa Galela Olah VCO dan Briket, Tak Jual Kopra Saja

Jumat, 25 September 2026 • 17:01:01 WIB
Tim PKM FEB Unkhair Edukasi 20 Petani Kelapa Galela Olah VCO dan Briket, Tak Jual Kopra Saja
Tim PKM FEB Unkhair menggelar edukasi pengolahan kelapa bagi 20 petani di Galela, Halmahera Utara.

HALMAHERA UTARA — Program Diktisaintek Berdampak 2026 menjadi payung kegiatan tersebut. Peserta yang hadir terdiri dari petani kelapa, pemuda desa, dan pengelola usaha kelapa setempat. Tim PKM diketuai Dr. Marwan Man Soleman, S.E., M.Si, bersama Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si, dan Adysabzan Tomario Krois, MBA. Empat mahasiswa Program Studi Manajemen FEB Unkhair ikut dilibatkan, yakni Meliza Amelia Putri, Eka Susilawati Said, Arman Husemahu, dan Faruk Duwila.

Galela Penghasil Kelapa, Tapi Masih Jual Bahan Mentah

Galela termasuk daerah penghasil kelapa di Maluku Utara. Sebagian besar hasil kebun selama ini dijual dalam bentuk kelapa butir dan kopra. Pola itu membuat petani menghadapi harga yang berfluktuasi dan bergantung pada pembeli.

Rantai penjualan yang panjang memperbesar masalah. Petani, pengumpul, pedagang antar pulau, hingga pabrik membuat nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar desa.

"Setiap tahap mengambil untung, sehingga petani hanya menerima sebagian kecil dari harga akhir. Nilai tambah dari pengolahan lebih banyak dinikmati oleh pihak lain di luar desa," ujar Adysabzan.

Satu Pohon Kelapa, Banyak Produk Turunan

Adysabzan menilai kelapa Galela punya potensi ekonomi jauh lebih besar jika tidak berhenti sebagai kopra. Daging kelapa bisa diolah menjadi minyak dan Virgin Coconut Oil (VCO). Tempurung menjadi briket, sabut menjadi cocopeat, nira bunga kelapa menjadi gula semut, sedangkan air kelapa muda dapat diolah menjadi nata de coco.

"Satu pohon kelapa itu banyak produknya. Makin banyak bagian kelapa yang diolah sendiri, makin besar bagian nilai yang tinggal di desa," bebernya.

Lima Langkah yang Ditawarkan Tim PKM

Tim PKM FEB Unkhair memperkenalkan pengelolaan rantai pasok, mulai dari kebun hingga pembeli. Petani didorong tidak hanya memperbaiki kualitas kopra, tetapi juga memperkuat posisi tawar dan mulai mengembangkan produk turunan. Ada lima langkah yang ditawarkan:

  • Membentuk kelompok tani
  • Menjaga standar mutu kopra
  • Mengembangkan produk seperti VCO dan briket
  • Membangun kemitraan langsung dengan pembeli besar
  • Memantau harga dan mencatat hasil penjualan melalui telepon seluler

Briket dan VCO Jadi Produk Paling Diminati

Pada sesi diskusi, peserta mengungkapkan sebagian besar kopra masih dijual kepada pengumpul dengan harga yang ditentukan pembeli. Pencatatan biaya dan hasil penjualan serta perbandingan harga di luar desa juga belum menjadi kebiasaan.

Dari diskusi itu, briket dan VCO menjadi dua produk yang paling diminati untuk dikembangkan. Alasannya, bahan bakunya tersedia dan sebagian peralatan pengolahan telah tersedia di gudang mitra.

Pendampingan Bertahap Tiga hingga Enam Bulan

Anggota Tim PKM, Jeri Cahyadi Saputra, mengatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan pendampingan bertahap. "Satu sampai tiga bulan ke depan kami mendorong penguatan kelompok tani, kesepakatan standar mutu kopra, dan pembukuan sederhana. Tiga sampai enam bulan berikutnya uji coba pengolahan VCO dan briket skala kecil, termasuk uji pasar di Galela dan Tobelo," jelasnya.

Tim juga akan membantu menghubungkan kelompok tani dengan pembeli maupun industri pengolahan melalui pendampingan dari kampus. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa menerapkan pengetahuan langsung di masyarakat.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks