Pencarian

Gentle Parenting: 6 Kesalahpahaman Orang Tua yang Perlu Diluruskan

Kamis, 08 Oktober 2026 • 09:35:01 WIB
Gentle Parenting: 6 Kesalahpahaman Orang Tua yang Perlu Diluruskan
Ilustrasi pola asuh gentle parenting yang menekankan kedekatan orang tua dan anak.

MALUKU UTARA — Banyak ibu muda mengira gentle parenting berarti harus selalu mengalah pada anak dan tidak boleh marah sama sekali. Padahal, pola asuh ini justru menekankan batasan tegas yang disampaikan dengan hangat. Simak enam kesalahpahaman yang sering terjadi agar penerapannya tidak keliru.

Psikolog dan pakar parenting Sarah Ockwell-Smith menyebut gentle parenting berfokus pada membangun koneksi dengan anak. Pendekatan ini menempatkan empati sebagai dasar, tapi tetap disiplin penuh perhatian lewat pengajaran, bimbingan, dan batasan yang sesuai usia.

Sayangnya, banyak orang tua terjebak pada tafsir yang salah. Mereka merasa harus selalu tenang, tidak boleh menolak permintaan anak, dan tersedia secara emosional tanpa henti. Ujungnya bukan pengasuhan yang sehat, melainkan kelelahan yang menumpuk.

Apa Itu Gentle Parenting Sebenarnya?

Gentle parenting mengutamakan pemahaman terhadap perasaan anak. Tujuannya mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih sayang, tapi tetap konsisten menetapkan batasan yang sehat.

Pola asuh ini sering disamakan dengan permissive parenting, padahal keduanya jauh berbeda. Permissive parenting minim aturan dan hukuman, orang tua cenderung menghindari konflik serta memberi izin hampir pada semua keinginan anak.

Gentle parenting tetap punya batas jelas. Empati dan pengertian dipakai sebagai cara menyampaikan aturan, bukan alasan untuk menghapus aturan itu sendiri.

1. "Orang Tua Tidak Boleh Menolak Keinginan Anak"

Ini kesalahpahaman terbesar. Psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, menegaskan gentle parenting pada dasarnya bentuk authoritative parenting, yaitu pengasuhan yang memadukan batasan tegas dengan hubungan hangat.

Dokter anak Chrissie Ott, MD, menambahkan kemampuan mengatakan "tidak" justru bagian penting dari pendekatan ini. Anak membutuhkan batasan agar merasa aman, dan disiplin tetap ada tanpa perlu mempermalukan atau mengintimidasi.

2. "Ini Satu-satunya Cara Membesarkan Anak yang Baik"

Edlynn menyatakan tidak ada bukti bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan untuk membangun hubungan sehat dengan anak yang cerdas secara emosional. Gentle parenting sebagai pendekatan belum diteliti secara khusus, sehingga klaim hasilnya belum didukung bukti ilmiah.

Penelitian yang sudah ada justru menunjukkan authoritative parenting paling konsisten dikaitkan dengan hasil perkembangan anak yang positif.

3. "Orang Tua Tidak Boleh Marah"

Standar terlalu tinggi sering jadi jebakan. Orang tua yang merasa harus selalu tenang dan responsif bisa mengalami burnout, lalu menganggap dirinya gagal saat emosi naik.

Ott mengingatkan anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang dewasa yang mampu memberi contoh cara menghadapi emosi, termasuk mengakui rasa lelah dan marah yang wajar.

4. "Bisa Membuat Anak Jadi Manja"

Anggapan ini muncul karena gentle parenting dikira terlalu permisif. Padahal batasan yang konsisten justru mencegah anak tumbuh tanpa arah. Anak belajar bahwa keinginannya dihargai, tapi tidak semua harus dituruti.

5. "Berarti Harus Selalu Mengalah demi Anak"

Mengalah terus-menerus bukan gentle parenting, melainkan kelelahan yang menyamar sebagai kasih sayang. Pendekatan ini menuntut kerja sama dua arah, bukan pengorbanan sepihak dari orang tua.

6. "Cukup Bersikap Lembut, Selesai"

Kelembutan tanpa konsistensi tidak cukup. Gentle parenting menuntut orang tua aktif mengajarkan, membimbing, dan menegakkan aturan yang sesuai usia anak. Tanpa itu, pendekatan ini kehilangan intinya.

Kapan Perlu Konsultasi ke Ahli?

Jika ibu merasa kewalahan, mudah meledak, atau terus-menerus merasa gagal menjalankan pola asuh ini, jangan dipendam sendiri. Konsultasi dengan psikolog anak atau dokter tumbuh kembang bisa membantu menemukan strategi yang realistis.

Diskusikan juga dengan pasangan soal pembagian peran. Beban pengasuhan yang ditanggung sendirian membuat pendekatan apa pun terasa mustahil dijalankan.

Gentle parenting bukan soal menjadi orang tua sempurna. Ini soal membangun koneksi, menetapkan batasan dengan hangat, dan menerima bahwa marah atau lelah itu manusiawi. Pahami prinsipnya, sesuaikan dengan kondisi keluarga, dan jangan ragu minta bantuan saat butuh.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks