Pencarian

Kesehatan Mental Ibu: Kisah Fanny Kondoh dan Peran Anak Saat Terpuruk

Minggu, 13 September 2026 • 09:34:01 WIB
Kesehatan Mental Ibu: Kisah Fanny Kondoh dan Peran Anak Saat Terpuruk
Fanny Kondoh menceritakan tekanan mental yang dialaminya dalam podcast Melaney Ricardo.

MALUKU UTARA — Tekanan dari media sosial nyata dampaknya. Fanny Kondoh, influencer yang tengah jadi sorotan usai perilisan film Baby Udon, mengaku sempat berada di titik terendah. Pemicunya bukan hal sepele: hujatan bertubi-tubi dari netizen.

Dalam podcast Melaney Ricardo, Fanny bercerita sambil menangis. Ia mengaku tidak bisa berfungsi sebagai ibu karena serangan yang datang terus-menerus. Pengakuannya membuka ruang diskusi soal kesehatan mental ibu yang sering luput diperhatikan.

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Fanny Kondoh?

Fanny dihujat setelah momen dirinya memeluk dr Gia Pratama di acara perilisan film Baby Udon. Sejak itu, komentar pedas membanjiri media sosialnya. Ia mengaku tekanan itu di luar kendalinya.

“Serangannya terlalu out of my control, dan it make me almost give up. Aku sampai enggak function sebagai ibu,” ujar Fanny dalam podcast tersebut.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan sedih. Ini tanda bahwa kesehatan mentalnya benar-benar terganggu. Fanny bahkan menyiapkan langkah-langkah yang mengkhawatirkan, seperti menitipkan anaknya, Kazuki atau Kazkaz, kepada adik dan suster.

Anak Jadi Penolong di Titik Terendah

Di tengah keputusasaan, Fanny sempat menghubungi adiknya lewat WhatsApp. Ia menitipkan uang, password, dan Kazkaz. Ia juga mengirim pesan ke susternya bahwa ia sudah tidak kuat.

“Aku udah WhatsApp adikku, ‘Ini uangku ada di sini, password-nya ini, titip Kazkaz.’ Aku udah WA susterku, aku bilang, ‘Titip Kazkaz, aku tidak kuat, aku capek,’” tuturnya.

Namun, bayangan sang anak membuatnya urung melangkah lebih jauh. Fanny sadar Kazkaz masih membutuhkan ibunya. Momen itu menjadi titik balik yang menyelamatkannya dari keputusan fatal.

Kenapa Kesehatan Mental Ibu Mudah Terabaikan?

Banyak ibu muda merasa harus selalu kuat. Mereka menahan lelah, sedih, dan tekanan sendirian. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Hujatan online bisa memperparah kondisi ini. Rasanya seperti tidak ada ruang aman, bahkan di rumah sendiri. Fanny mengalaminya, dan ia bukan satu-satunya.

Data dari WHO menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental pada ibu bisa memengaruhi kemampuan mengasuh anak. Dampaknya tidak hanya dirasakan ibu, tapi juga si kecil. Karena itu, dukungan dari pasangan, keluarga, dan teman sangat krusial.

Kapan Harus Cari Bantuan Profesional?

Jika ibu merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada hal yang biasanya disukai, sulit tidur, atau muncul pikiran menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan. Jangan tunggu sampai kondisi memburuk.

Bicara dengan psikolog atau psikiater bukan tanda kelemahan. Justru itu langkah berani untuk melindungi diri dan anak. Bisa juga mulai bercerita ke orang terdekat yang dipercaya.

Fanny Kondoh memilih berbicara di podcast dan itu membantunya. Ibu lain bisa memilih jalur yang sesuai, yang penting tidak memendam semuanya sendiri.

Pelajaran untuk Ibu Muda Indonesia

Kisah Fanny mengingatkan bahwa menjadi ibu bukan berarti harus sempurna. Ada kalanya ibu juga butuh ditolong. Anak bisa menjadi alasan untuk bertahan, tapi ibu juga berhak bahagia.

Jangan ragu mencari dukungan. Ceritakan beban yang dirasa, batasi paparan media sosial yang toxic, dan prioritaskan kesehatan mental. Anak membutuhkan ibu yang sehat, bukan ibu yang selalu terlihat kuat di permukaan.

Jika Anda atau ibu di sekitar Anda mengalami tekanan serupa, jangan diam. Bantuan selalu ada, dan tidak ada salahnya meminta.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lifestyle.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks